Rabu, Mei 02, 2012

LUKA INI MILIK SIAPA?


LUKA INI MILIK SIAPA?

Mengapa amanah ini diberikan kepada kita, padahal mereka belum membangun ‘pondasi’ untuk itu. Akhirnya, kita berada di jalan ini dengan tertatih lantaran kita diterjunkan secara ‘prematur’. Kesendirian akibat ditinggalkan oleh sahabat seolah menjadi bumbu yang biasa karena rapuhnya pe-ri`ayah-an. Apalagi lemahnya kepemahaman membuat waktu kita habis untuk mengejar ketertinggalan diri kita terhadap amanah ini. Sehingga ketika periode amanah ini habis, kita baru sadar kalau kita masih berjalan di tempat, belum banyak prestasi yang dibuat.

Tidakkah para qiyadah kita terdahulu memikirkan apa yang akan kita rasakan saat ini? Atau kita yang terlalu bodoh hingga tak dapat membaca alur regenerasi, bahwa kita telah diproyeksikan untuk amanah ini? Dan, kemana mereka setelah amanah ini bergulir? Jangan-jangan mereka hanya ‘cuci tangan’ agar dapat segera lepas dari dakwah ini? Ah, betapa sakitnya hati ini.

Mereka sebenarnya tahu, karena itu mereka menjelaskan bahwa tidak selamanya mereka akan menemani kita. Kita harus tahu bahwa mereka sibuk. Ada amanah yang lain yang mungkin lebih tinggi dari amanah kita sekarang ini. Mereka memikul beban yang boleh jadi lebih berat. Kita harus mengerti. Tapi, di saat mereka ingin dimengerti, sadarkah bahwa kita pun ingin dimengerti?

Terlebih para jundi, yang tak lain adalah teman dan adik-adik kita sendiri, sepertinya tak mampu merasakan bagaimana sulitnya kita untuk istiqomah. Rasanya dada ini semakin sesak kalau kita ingat mereka jugalah yang dulu memilih kita di posisi ini, meyakinkan kita bahwa kitalah yang pantas memimpin mereka. Tapi sekarang? Mereka dengan mudah berkata “’afwan” di setiap panggilan kita tanpa memberi alasan yang jelas. Apa mereka lupa kalau jundi itu harus patuh pada qiyadah? Getir jadinya kalau ingat definisi ukhuwah itu apa.

Di satu sisi kita ingin ‘ngebut’ mengukir prestasi ini-itu saat menjabat, tapi ketidakdisiplinan mereka menjadikan jalan ini macet, yang akhirnya tenaga kita malah terkuras banyak untuk mengurusi mereka daripada tuntutan dakwah itu sendiri. Merepotkan!

Ya ya ya, mungkin mereka begitu karena sibuk dengan amanah di tempat lain yang lebih membutuhkan mereka. Mungkin saja mereka memang kurang terpaut hatinya, atau kurang tahu mereka harus kerja apa, dan lain sebagainya. Maklum, ada banyak persoalan yang harus disabari dalam jama’ah ini. Justru seharusnya kita sebagai qiyadah dapat lebih sabar dan kuat dalam menyikapi mereka. Memang benar, kita harus mencoba mengerti mereka. Kita harus dewasa dalam menyikapi ‘kepolosan’ mereka. Bagaimanapun kita qiyadah. Ya, betul sekali, kita qiyadah. Tapi, di saat mereka ingin dimengerti, sadarkah bahwa kita pun ingin dimengerti?

Tubuh kita semakin lemas, jika mendapati amanah-amanah yang kita pikul ternyata tidak menunjukkan progres yang jelas, tidak tahu mau dibawa kemana, dan sampai kapan kita akan terus begini. Kita buta dengan sistem dan tidak dapat menjalankannya. Kenapa? Karena kita belum ada pengalaman sebelumnya. Ingat, kita ‘prematur’! Sementara qiyadah-qiyadah terdahulu belum seutuhnya mewariskan apa-apa yang seharusnya kita dapatkan.

Untuk membuat sistem baru, rasanya berat. Kita menyadari bahwa kita bukan orang yang pandai mengonsep lantaran kita termasuk orang lapangan yang biasa mendapat turunan tugas dari atasan. Atau kita bisa mengonsep, tapi melihat para jundi seperti itu, sepertinya semangat kita jadi hilang dan harapan kita menjadi pupus adanya.

Kalau semua amanah ingin dimengerti, para qiyadah ingin dimengerti, jundi-jundi ingin dimengerti, dan segala tuntutan-tuntutan itu juga harus dimengerti, lantas siapa yang akan mengerti kita?

Seperti pepatah “tak ada gading yang tak retak”, maka kita pun demikian. Kita manusia biasa, bukan superman. Penampilan kita yang kokoh bukan berarti diri kita luput dari kerapuhan. Sosok kita yang kuat bukan berarti kita tanpa kelemahan. Ada saat dimana kita ingin dimengerti dan menuangkan semua perasaan penat ini.

Tapi kepada siapa? Teman-teman sepertinya banyak yang kurang mengerti. Kalaupun kita menceritakan ini semua, tidakkah nantinya kita dianggap orang yang lemah? Kita harus menjadi teladan bagi mereka. Jangan sampai mereka antipati karena melihat sisi kelemahan kita. Apalagi sekarang ini sudah zamannya krisis keteladanan. Jelas kita tidak ingin menjadi seperti mereka, kader yang norak karena tak memiliki izzah dan integritas.

Murobbi? Ah, jangankan untuk mendengar curhatan kita, terkadang karena kesibukannya untuk bertemu saja susah. Akhirnya, kita jugalah yang harus mengerti beliau. Rindu rasanya sosok murobbi yang komplit menjalankan perannya sebagai orangtua, pemimpin, guru, dan sahabat.

Orangtua kita? Terkadang tidak semua orangtua itu enak diajak ngobrol. Bahagialah jika di antara kita memiliki orangtua yang supel dan mengerti anaknya. Tapi bagaimana jika mereka adalah orangtua yang tempramen, kolot, dan tidak memahami apa yang kita jalani ini? Ujung-ujungnya, kitalah yang harus melapangkan dada untuk lebih memahami mereka. Kita paham, masalahnya bukan seperti apa mereka pada kita, tapi seperti apa kita pada mereka. Dan karena rasa sayang kita pulalah, kita jadi tak tega untuk menceritakan keluh kesah kita di jalan dakwah ini, kuatir membebani pikiran mereka nantinya.

Lalu kemana lagi? Facebook? Twitter? Jejaring sosial lainnya? Ah, apa kata orang-orang kalau kita, yang mereka kenal sebagai aktivis dakwah ini, curhat di statusnya, “Uuuuh, ada gak sieh yang coba ngertiin gw?” Lalu dengan singkat komen pun berdatangan, “Nape lo, dul?” Dan selanjutnya, percakapan yang tidak seharusnya diungkapkan pun terekspos kepada khalayak. Hingga kemudian pihak oposisi dakwah tertawa geli melihat ‘kelucuan’ kita yang tak lucu tersebut.

Kepada suami/istri kita? Itu dia masalahnya. Kalau sudah punya sih enak saja curhat dan saling menguatkan. Tapi kalau belum punya?

Jika sudah seperti ini, jangan salahkan kita kalau ada besitan untuk futur, lari dari tanggung jawab dan jadi ‘orang biasa’ dalam menjalani hari-harinya tanpa beban amanah dakwah. Wong kalau kalau jadi ‘orang biasa’ itu kan enak. Karena tidak ada label aktivis dakwah, jadi mau seperti apa juga bebas!

Tapi di saat yang sama, ketika pikiran kita memutar rekam jejak pahitnya dakwah yang kita rasakan, kita tak dapat menepis suara hati yang mengingatkan kita tentang teori-teori cinta dan arti perjuangan sejati. Semua bercampur menjadi proses tadabur, tafakur, sekaligus muhasabah diri. Tanpa kita sadari, kita merefleksikan tarbiyah dan dakwah yang selama ini kita selami. Hingga akhirnya, ‘pertempuran hati’ terjadi:

- Mengapa amanah ini diberikan kepada kita?

+ Bukan mereka yang memilih kita, tapi Allah lah yang memilih kita! Karena itu kita adalah orang yang terpilih. Berbahagialah!

- Mengapa para qiyadah terdahulu meninggalkan kita?

+ Tidakkah kita sadari, bahwa kita bisa sejauh ini mengenyam nikmat tarbiyah dan dakwah hingga akhirnya kita tahu mana yang baik dan yang buruk, adalah juga karena ‘uluran tangan’ mereka. Tanpa mereka, akan seperti apa kita sekarang? Boleh jadi fisik mereka tidak menemani, tapi tidakkah kita sadari bahwa mereka selalu menyelipkan nama kita di setiap doa robithohnya?

- Mengapa kita dikelilingi para jundi yang kurang ideal?

+ Yakinlah, ada atau tidaknya mereka dakwah ini akan tetap berjalan. Kalau mereka mundur, artinya mereka kalah. Jangan jadikan kelemahan mereka menjadi penyebab kelemahan kita. Kuatlah! Jangan biarkan semangat lingkungan memengaruhi semangatmu, tapi semangatmulah yang seharusnya memengaruhi semangat lingkungan di sekitarmu!

- Mengapa kita harus banyak mengerti, tapi mereka tidak pernah mengerti kita?

+ Sadarkah bahwa kemampuan untuk mengerti, belajar, dan memahami orang lain adalah kemampuan yang tidak banyak dimiliki orang lain? Karena kemampuan empati adalah tanda kebeningan hati, buah dari hidayah Illahi. Inilah proses kedewasaan yang Allah ajarkan kepada kita. Hingga ketika kita berkeluarga, menjadi suami, menjadi ayah, menjadi pemimpin, dan lain sebagainya, diri kita sudah siap untuk itu lantaran diri kita lebih arif dan bijaksana dalam bersikap. Mungkin kita yang terlalu su`udzon kepada mereka. Bersabarlah. Syukuri apa yang ada. Lakukan apa yang dibisa.

- Mengapa kita tidak boleh futur?

+ Jangan egois. Pikirkan orang lain di sekitar kita. Apakah kita akan membiarkan proses tarbiyah para binaan dan para jundi kita terkatung-katung lantaran diri ini merasa tersakiti? Ataukah kita mau nantinya Allah mencabut nikmat ini dan memberikannya pada orang lain? Apakah kita tega membiarkan segala peluh perjuangan kita berakhir sia-sia hanya karena diri kita tidak kuat berpijak? Apakah kita ingin memasuki masa depan yang jauh dari nuansa tarbiyah dan dakwah? Dan kalaupun ingin futur, hendak seperti apa hidup kita nantinya? Apakah itu menjanjikan kebahagiaan yang sejati?

- Mengapa begitu sulit dan berat?

+ Tidak sulit, karena di setiap kesulitan Allah janjikan kemudahan. Tidak berat, karena Allah tidak limpahkan beban melebihi kemampuan kita. Tidak ada masalah yang sulit ataupun berat. Masalah itu kecil selama hati kita besar. Kalau kita merasakan masalah begitu menghimpit dan sulit, itu artinya hati kita sedang menyempit.

Benarkah? Apakah hati kita sedang menyempit hingga mudah sekali kita menemukan alasan untuk lemah dan kalah? Padahal ada banyak sekali kenangan indah dan pengalaman manis yang kita dapatkan selama ini. Mengapa semua itu tidak terlihat oleh kita? Ada apa dengan kita?

Kita sadari semua protes dan keluh kita yang kita ungkapkan ternyata bermuara pada kita sendiri. Kekecewaan kita tak lain adalah bukti ketidakmampuan kita dalam menyibak tabir hikmah yang Allah berikan. Ada yang salah dengan hati kita. Kenapa?

Lama kita berpikir. Mendiagnosa hati. Sampai akhirnya kita bertanya dalam hati: Sudah berapa lama kita tidak qiyamul lail dan tilawah?

Allahu a’lam…



[Masjid Al-Jami`ah UIN Jakarta, 21 Februari 2012]

(beliau ada salah satu inspirasi saya... n___n)

http://www.dakwatuna.com/2012/03/19451/luka-ini-milik-siapa/
http://www.bukanorangsuci.co.cc/2012/02/22/luka-ini-milik-siapa/


Share:

Sabtu, September 17, 2011

ORDER YOUR LIFE WITH RULE!


Mungkin kita lebih merasakan kenyamanan ketika tidak ada aturan, tidak ada tatanan, hidup santai , dan tanpa ada beban sedikitpun. Apapun bisa dijalani sesuai dengan kemauan kita. 

Akan tetapi sesungguhnya tanpa berani untuk menjadi dewasa, hidup justru akan kerdil, penuh beban, kesulitan, dan penderitaan yang lain. 

Share:

Minggu, Mei 15, 2011

MUSLIMAH PEMBANGUN PERADABAN


Prolog
Suatu ketika ada seorang ukhti kecil yang bertanya padaku, “mba, sepenting itukah kemuslimahan? Sehingga harus ada wadah sendiri untuk menghasilkan sebuah kontribusi?” kurang lebih seperti itu pertanyaannya. Waktu itu aku hanya diam, tak cukup sedikit kata untuk memuaskan logikanya, pikirku waktu itu. Biarlah waktu yang akan membelajarkan hati dan menemukan dinamika akal yang ‘kan terus berpikir untuk menemukan jawabnya sendiri. Namun, kemudian aku berpikir kembali, setidaknya aku akan mencoba untuk menjelaskannya melalui cara lain, salah satunya melalui tulisan ini.
Siapakah sosok muslimah itu?
Mari kita coba menjawab pertanyaan di atas dengan membedakan antara beberapa istilah yang biasa kita gunakan, yaitu : cewek, perempuan, wanita, akhwat, dsb. Adakah terlihat sebuah perbedaan? Ya tentu saja yang pertama adalah penulisannya. Kedua, perbedaan bahasa, agar orang lebih mudah menggunakan konteks dan istilah tadi untuk mempermudah penggambaran bagi lawan bicara. Ketiga, adalah perbedaan persepsi. Persepsi inilah yang membawa kita membedakan istilah tadi berdasarkan simbol, ideologi, keyakinan, rasa, konteks sosiologisnya dsb. Namun, iman Islam menyatukan istilah tadi dalam naungan nama MUSLIMAH, yaitu seorang perempuan, wanita, cewek, akhwat yang beragama Islam. Oleh karena itu, menjadi kurang pantas apabila kita enggan untuk mengikuti acara kemuslimahan dengan alasan “saya kan ga muslimah banget” ataupun kita merasa lebih dengan jilbab yang besar dan panggilan akhwat, akhirnya merasa malu untuk berkumpul dengan para cewek yang baru semangat-semangatnya belajar agama.
Islam untuk semua, hak hidayah tidak boleh kita pangkas hanya karena kita “malas” atau “persepsi” sudah membutakan mata hati kita hingga pakaian kebesaran menjadi lebih besar daripada pakaian taqwa.
Ada dua hal mendasar yang membedakan sosok muslimah ini, adalah : para muslimah yang mengangkat beban dan membebani. Dia muslimah yang meringkankan beban, pengangkat yang lemah, merasakan tanggungan , kekhawatiran kesucian diri dan permasalahan umat ataukah dia yang penyandar, membiarkan sesama dan memberati pundak-pundak.

Kemarin yang jauh, saat ini yang singkat dan hari esok yang panjang
Napak tilas sosok wanita
Islam telah sangat memuliakan wanita setelah berabad-abad sebelumnya keberadaannya tak lebih dari sekedar mainan yang akan disingkirkan setelah bosan, bersikap sewenang-wenang padanya dan merendahkan derajatnya (Q.S. 81;8-9).
Al-Qur’an telah mengisahkan kepada kita ragam keadaan dan sikap kaum wanita. Allah memuji sikap istri Nabi Ibrahim, istri fir’aun, dan Maryam putri Imran. Al-Qur’an juga menyebutkan perasaan malu putri Syu’aib, dan mela’nat pula sikap istri Nabi Nuh, istri Nabi Luth, istri al-Aziz (penguasa mesir zaman Nabi Yusuf) dan istri Abu Jahl. Tidak ada keraguan posisi kaum wanita dalam membantu penyebaran Islam dan menegakkan kebenaran dan pada kondisi lain membantu suaminya dalam menunaikan misi hidup di dunia.
Wanita menjadi terangkat kedudukannya bersamaan dengan turunnya wahyu, tapi mulai kehilangan fungsi dan posisinya kembali pada masa-masa sinar wahyu mulai redup dan Islam mengalami kemunduran. Di antara keadaan dan undang-undang manusia yang melanggar hak-hak kaum wanita bahkan menganggap mereka seperti sampah, barang dagangan, hak-haknya di batasi atau malah terlalu dipertuhankan sebagaimana digambarkan sejarah negara Yunani, Romawi, Persia, Yahudi, Nasrani dan Arab Jahiliyah sebelum Islam memuliakan derajat wanita (lihat lebih lengkap wikipedia.com).
Wajah para wanita hari ini
Sementara itu, saat ini, pasca perjuangan R.A Kartini usia dan membuahkan hasil yaitu persamaan derajat antara hak laki-laki dan perempuan. Kita melihat begitu banyak fenomena yang keluar dari kodrat wanita yang biasanya. Mari kita tuliskan satu per satu fenomena tersebut,
1.       Ekploitasi wanita dalam pemasaran produk/iklan, baik dalam bentuk media cetak, audio, audio-visual, dan internet,
2.       Jual beli wanita dan anak-anak (kasus traficking di berbagai negara),
3.       Kekerasan dalam Rumat Tangga (KDRT) sebagian wanita menjadi korban utama,
4.       Wanita menjadi center of interest dalam acara-acara yang ditampilkan di televisi maupun media lain. Contoh : mama mia, miss universe, miss indonesia, miss sunsilk, dll...,
5.       Permasalahan kesetaraan gender diangkat oleh kaum feminis, sehingga menimbulkan kontroversi, seperti : wanita menjadi Imam sholat, para wanita menuntut masa iddah bagi para laki-laki, pembagian hak waris, pemutusan hak cerai dll,
6.       Kasus-kasus pornografi, pornoaksi, pergaulan bebas, aborsi, nikah siri, perceraian, terus meningkat sampai saat ini. Mirisnya semua itu melibatkan adanya peran sosok wanita dalam masalah tadi, entah perselingkuhan dengan wanita lain, pakaian para wanita yang terlalu vulgar/tidak menutup aurat, sampai peran seorang orang tua khususnya ibu terhadap anak-anaknya.
7.       dll
BEBAS, mungkin satu kata ini cukup untuk menggambarkan wajah perempuan hari saat ini. Bebas bicara, bebas berperilaku, bebas bertindak, mau menutup aurat sampai menutup seluruh tubuh (memakai baju kurung.red) atau (maaf) berbusana tapi telanjang pun silakan, yang penting kita sama-sama saling menghargai, betul? So, what do you think?
Meneropong masa depan sosok wanita
Islam mengharapkan para wanita dapat berdiri tegak dan kokoh di antara 2 arus besar, yaitu : keterkekangan jahiliyah dan kebebasan barat. Karakter yang teguh ini hanya dapat dimunculkan dengan pemahaman aqidah yang benar, pemahaman yang luas akan Islam dan  kehidupan serta menunaikan segala kewajiban atas Tuhannya, suami, anak-anaknya, masyarakat dan umat islam secara umum. Dari situ akan terwujud para pribadi muslimah yang da’iyah, murabbiyah, dan mursyidah sehingga sosok ini dapat memacu terbentuknya para  putra-putri yang berkepribadian Islam, serta masyarakat Islam yang bercita-cita membangun kejayaan Islam kembali sampai menjadi rahmatan lil’alamin.
Sosok wanita secara fitrah memiliki ketajaman hati melebihi sosok laki-laki, memiliki kelembutan baik dalam hati, sikap maupun tutur kata, yang secara alami sudah kita punya mesi tak kita minta. Ia (wanita) juga ditakdirkan memiliki sifat sensitif yang sangat, sensitif terhadap pendengaran, sensitif terhadap harta, dan sensitif terhadap penglihatan. Lihat saja, berapa kali seorang perempuan menyebutkan kata “lucuuu....” saat melihat barang yang dia sukai, berapa puluh ribu wanita yang jatuh cinta oleh bujuk rayu sosok laki-laki yang tak sedikit yang tak dapat membuktikan kata-katanya, atau seberapa tahan seorang wanita untuk tidak menginginkan perhiasan yang indah, rumah yang mewah, kenyamanan, dan kemanjaan diri. Parahnya, laki-laki itu lemah dengan wanita, hingga dengan menghalalkan segala cara, apapun mereka lakukan untuk dapat memenuhi keinginan istri, anak, wanita pujaan hati atau bahkan ibu mereka. Dan mereka semua kita sebut denga wanita.
Jadi,  bila tidak ingin para wanita (kita) menjadi lingkaran setan, sebab-akibat datangnya murka Allah. Maka, kita harus dapat berdiri kokoh di tengah-tengah kebodohan tadi. Kita masih bisa menjadi bunga harapan di hari esok yang sangat panjang itu, dengan mengkokohkan shibghoh Allah pada diri kita. Shibghah Allah, Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah (Q.S.Al baqarah 138)”, dan setidaknya memiliki 3 karakter masa depan yakni :
-          mampu menajamkan dan menyelesaikan permasalahan umat Islam,
Rumah tangga OK, keluarga OK, masyarakat OK, dakwah OK, kontribusi maksimal untuk menjadi sebaik-baik umat. 
-          Tidak merasa puas dengan keadaan rumah yang aman,
Menjadi seorang ibu yang memiliki tanggung jawab utama terhadap anak dan akhlaknya, bukan hanya sehat secara fisik, tapi sehat secara ruhiyah (rohani), fikriyah (pemikiran), jasadnya (fisik) dan bahkan cara bersosialnya (muamalah).
-          Mempunyai kekuatan visi yang besar.
Mempunyai pandangan yang luas dalam kehidupan dan berkarya. Ada seorang ibu yang bercita-cita menjadikan semua anaknya seorang mujahid, ada seorang ibu yang mampu menggerakkan semua anggota masyarakatnya untuk memerangi kemiskinan dengan berjualan, ada seorang ibu yang mampu mengentaskan anak jalanan, ada banyak ibu-ibu palestina yang mampu mengajak semua warganya untuk turut serta dalam pemilihan umum meski pada saat itu perang sedang kecamuk.... semua itu tidak akan didapat bila kita menjadi seorang wanita yang mudah putus asa, tapi lahir dari sosok muslimah yang memiliki VISI BESAR, PANJANG, dan KOKOH!
Satu kata untuk masa depan wanita : HARAPAN!
Mampukah kita menjawab tantangan harapan itu?


Mengapa harus (khusus) muslimah?
Masih saja ada pertanyaan dalam benak kita, mengapa harus secara khusus? Bukankah saat kita berorganisasi kita juga berinteraksi dengan wanita, menangani wanita, bahkan sekali dayung dua tiga pula terlampaui, kita bisa sekalian melakukan sebuah pengelolaan laki-laki dan wanita sekaligus, secara media pun selalu tetap terekspos, lalu apa masalahnya?
Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, jumlah perempuan sebesar 49,92% dari seluruh penduduk Indonesia. Artinya secara kuantitatif, jumlah perempuan menempati hampir separuh dari masyarakat Indonesia. Dari 93.722.000 orang pekerja di Indonesia tahun 2004, terdapat 33.141.000 orang perempuan atau sekitar 35%. Jumlah sedemikian tentunya bukanlah sebuah kekuatan yang bisa dianggap kecil. Bayangkan, andaikan saja terjadi sebuah kemufakatan seluruh perempuan di Indonesia untuk melakukan suatu tindakan bersama, mogok makan atau mogok kerja massal untuk memboikot pemilu misalnya, niscaya huru-hara akan sulit dikendalikan. Meskipun jumlah tidak selalu berkonotasi positif dengan kualitas, namun secara sederhana dapat pula dipahami bagaimana signifikannya posisi perempuan dalam membangun sebuah peradaban mumpuni di atas dunia ini.
Rasulullah SAW bersabda bahwa “Perempuan adalah tiang negara”. Hancur atau majunya suatu negara tergantung bagaimana kondisi perempuan yang ada di dalamnya. Musuh-musuh Islam yang memahami peran wanita terus menyeret kaum wanita ke dalam perangkap propagandanya dengan didukung perangkat-perangkat di bidang budaya, ekonomi dan politik. Pemahaman para muslimah yang lebih condong pada perilaku hidup konsumtif, hedonis dan mendewakan kecantikan, tidak serta merta timbul begitu saja. Ia berasal dari suatu usaha yang terorganisir rapi. Perlahan tapi pasti, usaha tersebut mencapai targetnya. Mereka para musuh Islam, yang melakukan usaha ini hanya perlu menjauhkan orang Islam dari Al-Qur'an sebagai pedoman hidupnya, merayu wanita Islam untuk membuka hijabnya dengan sukarela tanpa paksaan. Sebagaimana yang dikatakan Snouck Hongraye, ”jangan larang mereka beribadah bahkan fasilitasi, tapi buat mereka malas dan lalai membaca Al-Qur'an dan bikin wanita-wanita Islam kehilangan rasa malunya.” 1

Jelas sekali bahwa wanita memiliki peran strategis, dan kemulian ini memang harus di jaga oleh para wanita sendiri, walaupun tidak menutup peran laki-laki untuk ikut andil di dalamnya. Seperti firman Allah : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Dan mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan  sembahyang, menunaikan  zakat dan mereka taat kepada Allah, dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya  Allah  Maha  Perkasa  lagi  Maha  Bijaksana. ”  (QS. At-Taubah: 71).

Mempunyai wadah pembinaan secara khusus karena kita (muslimah) beda. Baik dari segi kepribadian, dinamika fisik/hormon, minat, bakat, maupun potensi dsb, dalam diri wanita sendiri pun sudah terbentuk keragaman karakter yang unik. Hingga disimpulkan bahwa setiap wanita itu cantik, dan mereka cantik dengan kecantikannya masing-masing. Sangat disayangkan bila kita salah mengelola kemuliaan ini ataupun sembarangan merawatnya hingga tidak teroptimalkan dengan baik, sehingga menjadi kelebihan ini akan bumerang yang dapat menghinakan diri kita sendiri.


Epilog
Sesunguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah nasib mereka sendiri (Q.S.13;11). Kita bahkan menyadari bahwa hanya ada seorang pengangkat beban untuk tiap duapuluh orang yang membebani. Seringkali diantara para pengangkut beban pun tak sepenuhnya total dalam mengangkat beban yang diampukan kepadanya, hingga mereka seakan-akan sudah turut mengangkut beban. Semestinya beban dapat dibagi menjadi rata, tapi alhasil hanya orang tertentu yang benar-benar mengangkat beban dan dialah orang yang paling banyak belajar serta mengambil banyak hikmah. Semoga Allah meridhoi-nya.
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. At-taubah;105)
Masihkah kau ragu?
Ya Rabb, jangan palingkan hati kami setelah petunjuk-Mu datang. Karuniakanlah kami rahmat-Mu karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
Allahu’alam bishowab

Rumah cahaya, 4 safar 1432 H/7 Februari 2011, 11.56 am
Share:

Rabu, Desember 29, 2010

Jumat, Desember 24, 2010

Puisi Cinta

PUISI CINTA
(anis matta)

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita tidur saling memunggungi

Tapi  jiwa berpeluk – peluk
 senyum mendekap senyum

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Raga tak saling membutuhkan

Hanya jiwa kita sudah lekat menyatu
rindu mengelus rindu

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita hanya bisa mengisi waktu dengan cerita
Mengenang dan hanya itu yang kita punya

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Kemana cinta kan berakhir, di saat tak ada akhir.

Share:

Kamis, November 25, 2010

Lesson today

Awalnya aku berpikir ketika kita menolong jangan hanya berefek seperti “korek api”. istilah ini ku dengar dari adek tingkatku saat kami tergabung dalam tim kuliah kerja dakwah.
Paradigma tadi berubah seketika, saat aku hampir menyerah dan merasa sangat sedikit hal yang bisa kuberi. Lalu aku teringat korek api, akankah aku hanya seperti dia? yang hanya berefek sesaat....?
Yang hanya bisa memberi sedikit cahaya
.............
.............
.............
Otak ini berputar dan logika ini tergelitik...
Mengapa tidak?
Korek api itu memberikan cahaya walau sesaat
Korek api itu memberikan kehangatan walau sejenak
Korek api itu memberikan kehidupannya untuk menghidupi yang lain
Korek api itu memberikan cahayanya pada lilin, obor, lampu teplok, api ungun, ....
Korek api itu memberikan seluruh hidupnya yang sejenak untuk orang lain...
....
Aku tertegun, logika ini menarik bagiku...
Selama ini ak terlalu meremehkan korek api dan aku lebih menyukai lilin,
Tapi ternyata ia jauh memberi andil kehidupan lebih dari yang aku sadari...
Sehingga bersemilah perasaan “cukup” itu...
Perasaan qona’ah...
Bahwasanya cukuplah aku menjadi korek api,
Tidak ada masalah....
Aku memang bukan matahari yang selalu tegar menyinari bumi...
Selalu bermanfaat menumbuhkan alam...
Tapi sebatang nyala korek api sudah cukup untuk menghiasi kegelapan dengan cahaya,
memberikan kehangatan, memberikan petunjuk dalam waktu yang singkat.

Dari pada terus mengutuki kegelapan..
Dan berharap sang mentari datang bersama sang pagi..
Lebih baik,
nyalakan api sekarang!

Maguwoharjo, 25 November 2010 14;53
Share:

Rabu, Juli 08, 2009

Tak Selamanya Ngandong Naik Kuda

Gunung Andong (29/07/09) - Setelah sekian lama akhirnya mimpi itu terwujud kembali, satu tahun lamanya aku menunggu, akhirnya kesabaran itu membuahkan hasil, perjumpaan itu kembali kutemui disini, hari ini. Puncak, tanpa atap, menuju ke atas, Pasti! Ketika seorang anak bermimpi, dia akan selalu bermimpi dengan membayangkan angkasa luar, melihat bintang, menggapai awan, langit luas tanpa batas, tanpa atap. Namun, semakin bertambahnya usia bertambah pula keinginannya, langit yang awalnya tak beratap itu sekarang berubah menjadi sebuah rumah lengkap dengan eternit dan gentingnya. Dari bawah terlihat terbatas, tak terlihat, dan dengan atap. Kalaupun atap kita ubah dengan kaca, tetaplah hal itu akan menjadi glassceiling effect bagi kami, keterbatasan itu telah muncul dan akhirnya bisa membuat kami nyaman dengan standar ini dan membuat kami mudah memaafkan diri dengan keterbatasan pandangan kami.
Namun, kehidupan di luar sana mengajarkan hal yang berbeda bagi diriku. Jika penduduk setempat dapat sampai ke puncak gunung Andong dalam waktu setengah jam. Maka kami, khususnya aku baru bisa menikmati puncak 2,5 jam lebih lama daripada para penduduk asli di sana. Memalukan memang, tapi itulah perjuangan yang bisa dicapai. Perjuangan sel darah merah pengangkut oksigen yang harus berlari lebih cepat dari biasanya untuk mengirimkannya ke otak. Jantung yang bekerja 2x lebih kencang untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh, paru-paru yang tak henti-hentinya untuk menangkapi oksigen yang berhamburan, otot-otot kaki dan tangan pun tak mau ketinggalan, “ayo kaki kamu pasti bisa melangkah lagi, sedikit lagi…sedikit lagi… “ tangan dan pundak harus tetap kuat menyangga, beban yang ada dipundak ini adalah amanah, amanah yang harus dipikul oleh kita sendiri. Jalan begitu terjal, sedikit bosan dengan jalan yang ditapaki orang-orang, kucoba jalan lain, yang ternyata membuat adrenalinku meningkat. Lebih cepat tapi juga lebih terjal, miring,dan berpasir, alang-alang ini juga tak mau kalah ingin meninggalkan jejaknya di tanganku, tergores sedikit tak mengapa, teman-temanku sudah memanggilku lekas naik, foto dulu… (jepret…!) ternyata zaman ini sudah jauh berbeda, dalam kesempitan dan keputusasaan pun tak membuat kami lupa untuk merekam semua puzzle kehidupan yang tengah kami lalui, narsis lebih tepatnya =).

Walau tertatih kaki ini berjalan, rindu syahid tak akan tergoyahkan.. wahai tentara Allah bertahanlah! Jangan menangis walau jasadmu terluka…sebelum kau bergelar syuhada tetap bertahan dan bersiap siagalah…
Saat mudah bagi Allah untuk menyentilku jatuh dan menggelundung ke bawah, mungkin akan asyik juga membuat tubuhku ini dapat menggelinding seperti trenggiling yang berguna untuk melindungi diri, tapi sayangnya aku tidak bisa seperti itu, dan imanku pun tak mampu menempatkanku bergelar syuhada untuk saat ini, jadi aku lebih memilih untuk tetap berdo’a dan berhati-hati dalam melangkah.
Jalan ini jalan panjang penuh aral yang melintang…namun jiwa tetap arungi…tuk Illahi…

Semangat wahai saudaraku untuk menggapai cita!
lantunan itu dengan sendirinya terlantun ke dalam sukma, setapak demi setapak terus saja diarungi sampai tak terasa perbekalan pun menipis, air habis, Alhamdulillah gula jawa menjadi solusinya. Terimakasih teman telah memberikannya padaku. Lanjutkan! Itulah kata yang bisa kita katakan.
Terlihat dari kejauhan bendera berwarna putih hitam dan kuning, serta bertuliskan Parta Keadilan Sejahtera, menjadi sebuah pemandangan yang sejak tadi kami rindukan. Puncak! Inilah titik itu, mantapkan hati. Entah berapa ketinggian dari tempat aku berdiri ini, jika lebih dari 2000kaki maka tempat ini layak disebut gunung. Entahlah… aku hanya merasa tak ada atap disini, tak ada puncak lain disini. Jadi aku sudah sampai pada titik puncak tahap awal sampai menuju tahap selanjutnya yang kian berat.
Jika jikustik mengatakan “pandangi langit malam ini” maka aku yang ada di atas ini kan berkata “pandangi dan nikmati alam ini” tak ada sesuatu pun yang ingin kami rubah dalam kesempurnaan alam yang terlihat dari atas. Ciptaan manusia, dan keberkahan dari Allah SWT. Itulah anugerah.
Share: