Minggu, Agustus 04, 2013

Masjid Kampus




MASKAM – salah satu tempat berlabuhku selama hidupku di kampus UGM ini . Menjadi saksi dari Ramadhan ke Ramadhan, menjadi tempat bertemu sahabat seperjuangan, bagaimana pertama kali mengenal dakwah, bagaimana tumbuh dalam tarbiyah, sampai tugas akhir kuliahku pun lebih menyenangkan dikerjakan di pelataran masjid ini. Maskam adalah SAKSI bisu, dan akan tetap membisu menjaga ke hikmahannya sepanjang masa.


Sebuat tweet dari Pak budi yang sangat menyentuh kalbu “Yang ringan melangkah menuju rumah Allah, akan ringan pula ketika kelak terpanggil menuju Allah(Dwi Budiyanto on twitter). Mana yang lebih terkait pada hati kita, berulang kali melihat HP untuk sekedar melihat apa ada notife yang muncul atau kah sinyal rumah Allah yang lebih kuat dalam kaitan hatiku.
Sebuah renungan di antara i’tikaf. Semoga Allah memberi kita umur panjang untuk bisa bersua kembali tahun depan. Ramadhan 1434H.//avicesun



Share:

Minggu, Juli 21, 2013

ramadhan oh ramadhan

gambar ini benar-benar mewakili diriku saat ini

panas dingin
tubuh menggigil
nyeri di punggung yang tiada habis
kepala terasa pening
terhujam dari belakang

aku suka hujan 
tapi tak pernah dapat bersahabat baik dengannya
atau ini hanyalah khayalanku belaka
efek dari psikosomastis tak ada ujung

aku hanya perlu bersabar sebentar lagi
begitulah pikirku
sebentar yang penuh prahara
sejenak yang butuh fokus
ketenangan...
keberanian...
kesabaran...
dan ketekunan....

Allah telah memberi janji
yang tak pernah Ia ingkari
seperti halnya 
menumbuhkan kembali
pohon pohon
yang layu

Menjadi perantara
dalam menumbuhkan kembali 
pohon yang layu
merawatnya kembali hingga
tumbuh sehat

rasanya
butuh banyak wadah kesabaran untuk
menampung keinginan
hingga ia 
kembali mekar pada waktunya

jangan biarkan kuncup itu layu sebelum berkembang

ya, saya juga mesti meneruskan
kembali apa yang sudah saya mulai
di psikologi
di etos
di qiro'aty
dlm perjuangan dakwah ini
semoga dapat mengakhirinya dengan indah.... 

#pastibisa!
















Share:

Sabtu, Juli 13, 2013

#harapan



1.       Manusia tidak bisa terlepas dari sebuah #harapan karena dengannya, dia mampu bertahan untuk hidup

2.       Hanya saja seringkali qt salah menempatkan #harapan itu pada akhirnya muncullah rasa kecewa

3.       kecewa adalah besarnya kenyataan lebih kecil atau sama dengan #harapan

4.       wajar ko kita berharap, justru yang tidak wajar kalo kita tidak pernah memiliki #harapan

5.       yang kita manage adalah memposisikan #harapan itu, kepada siapa kita pantas berharap, itu yang susyeeeh :p

6.       interaksi antar manusia seringkali membuat peluang untuk saling bergantung, pernah menolong orang artinya memberi #harapan bukan?

7.       pun ketika kita meminta tolong orang lain pastinya qt berharap ada yang memberi #harapan, siapapun itu

8.       disinilah posisi "berharaplah hanya pada Allah" bergeser pada yang namanya sosok manusia. padahal jelas3 manusia itu #harapannya terbatas

9.       disinilah posisi "berharaplah hanya pada Allah" bergeser pada yang namanya sosok manusia. padahal jelas3 manusia itu #harapannya terbatas

10.   gimana gak terbatas lha wong saling berharap ko. yang namanya #harapan itu menumbuhkan bukan mematikan

11.   #harapan bisa menumbuhkan karena manusia hanya sbg sarana. Sang Khalik adalah sumbernya, semua kembali dan terjadi karena kuasanya, iya to?

12.   #harapan juga bisa mematikan ketika mentok di sarana pemberi harapan tadi (manusia.red) akhirnya dia jadi putus asa

13.   contohnya gini ortu brhrp bgt anaknya lulus UAN sampai3 usaha apapun sdh disiapkan,si anak pun takut tdk dpt mengabulkan #harapan ortunya.

14.   apa yg terjadi? mereka sama3 takut kehilangan #harapan itu. ketika anak gagal, ortu dan anak sama3 malu. bahkan ada yg bunuh diri gara3 itu

15.   di Indonesia tingkat bunuh diri di dunia pelajar semakin meningkat, salah satu sebabnya karena salah menempatkan #harapan tadi. Cek aja!

16.   sbg muslim qt diajarkan untuk tawakal. dengan tawakal #harapan itu hanya pada Allah. dan qt menerapkan ayat ke 8 dari surat al Insyiroh

17.   yg artinya "..dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya km berharap". ayat ini sbg pamungkas dr gambaran kerja3 manusia yg mbuat berat #harapan

18.   sblmnya Allah menyatakan bhw Dia tlah melapangkan dada Nabi dan menyelamatkannya dr sgala mcm cemas, gelisah, susah ats #harapan pd kaumnya

19.   sebelumnya semua itu terasa sulit sampai datangnya kemudahan. maka Rasul pun tdk pernah gelisah dan tdk pula mengubah tujuannya #harapannya

20.   Pada akhirnya Allah memberikan padanya pertolongan pada beliau dg para pendukung yang mencintai dan mendukungnya sepenuh hati #harapan

21.   akhirnya kemudahan itu selalu muncul setelah rasa sempit, berat dan lelah. maka selayaknya qt tdk memutus #harapan itu smpai trwujud

22.   bisa jadi saat kita menyerah pada #harapan itu, ternyata hanya berselang sedikit dari datangnya pertolongan Allah

23.   belajar dari rasulullah yg senantiasa sabar, walaupun beliau telah tiada tapi #harapan itu selalu beliau wariskan, akhirnya qt yg meneruskan

24.   maka bisa dibilang #harapan itu adalah proses yang terus menerus kita tanam, bukan hasil yang diciptakan.

25.   pada manusia qt tanam dan terus qt siram tapi tidak semua berbuah #harapan yang baik.

26.   pada manusia qt tanam dan terus qt siram tapi tidak semua berbuah #harapan yang baik. jadi saling memberi kepercayaan bukan #php

27.   sementara ktk ingin berbuah #harapan yg baik, maka selayaknya qt berikan pada Allah, Allah tidak #php hanya saja qt tdk tau kpn waktunya

28.   wah wah begitulah bincangan tentang #harapan sore ini. semoga kita termasuk manusia yang tegar hingga puncak harapan ^^
Cokrokusuman, 22 Juni 2013

Share:

Minggu, Juli 07, 2013

the sooner is better



Sebuah perbincangan pagi

P : Saya ko tiba-tiba jadi takut lulus ya malahan, hehe
S : ada apa memangnya? Apa ada syarat yang harus dilakukan untuk lulus?
P : hehe, biasalah.. manusia ada kalanya takut dengan hal hal yang belum terjadi lagi mencoba memanage harapan-harapan kebaikan yang terkadang tipis dg nafsu .. :3
(menghela nafas sejenak)
saya kalo sudah lulus khawatir meninggalkan amanah, walau sudah dipersiapkan. Masih ingin belajar banyak hal sebelum ada gelar sarjana, dan kembali ke kampung halaman.
S : bagus itu mempunyai mimpi yang jelas... Tapi hidup punya prioritas, punya banyak pertimbangan untuk memilih.
P : (+.+) sedang menginstall kembali menuju rel eksekutif
S : amanah bukan “milik individu” dont worry. InsyaAllah roda disana akan terus berputar. Banyak yang sudah menanti. Lulus adalah prioritas utama selain sebagai aktivis dakwah kampus yang sukses kuliahnya, juga memberikan “kado untuk keluarga”.  Tak ada keluarga yang tak suka mendengar kita lulus. Semua alasan untuk menuda masih bisa kita lakukan setelah lulus. So, tunggu apa lagi J
P          : ^^..
S : the sooner is better :)

Bismillah...

*) sambil nyari-nyari modul lama untuk ngolah data



Share:

Senin, Juni 10, 2013

Menjadi Pahlawan Biasa #1

Ya. Menjadi pahlawan itu biasa. Dia tetap manusia biasa, tidak kemudian memiliki sayap, baju emas, atau tersempitkan makna menjadi orang yang dikebumikan di makam pahlawan, dibuatkan patung, menjadi salah satu nama museum dan sebagainya. Mereka yang memiliki kehormatan itu tetap pahlawan. Namun, masih banyak pahlawan di sekitar kita yang sering kali luput dari pengamatan kita. Seperti halnya tukang sampah yang istiqomah mengambil sampah di pagi hari, bila mereka sepekan saja mogok kerja siapa yang akan rela membawa sampah-sampah itu ke tempat pembuangan akhir? Pun juga tukang sapu jalanan, keberadaan mereka sering kali tak tampak, tapi ketidak beradaan mereka jelas memberi penampakan yang berbeda. Pernah suatu ketika saya akan sholat ied adha di Masjid Kampus UGM, lingkungan sekitar masjid dan kampus penuh sekali dengan daun-daun yang berjatuhan, sangat banyak, macam UGM terkena musim gugur saja. Entahlah apa yang terjadi, mungkin para tukang sapu sedang sibuk mengurus sapi, makan daging sapi, madiin sapi dll yang jelas sukses deh maskam jadi episode musim gugur, alhasil para jama’ah yang sholat dipelataran masjid mesti mengambili daun-daun itu dulu. Ya memang daun yang jatuh tidak boleh membenci angin, seperti halnya mereka menyukai tukang sapu. (lho?) kembali ke topik. 

Pada intinya menjadi seorang pahlawan artinya ia memiliki arti bagi orang lain, dia memiliki “nilai” yang tidak dipunyai oleh semua orang. Dia memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dari orang kebanyakan. Terjawab sudah kenapa kemudian tukang sapu dan tukang sampah tadi tidak cukup unik untuk masuk dalam daftar nama pahlawan di dunia, buku rekor MURI atau yang lain. Karena menjadi “UNIK” adalah beban psikologis yang tidak semua orang dapat memikulnya. Coba saja tukang sapu itu menyapu menggunakan kostum boneka bebek, dengan atraksi kungfu yang menarik, pasti dia dengan cepat masuk dalam daftar pahlawan kebersihan terunik versi on the spot.(hehe) Kenapa unik menjadi beban? Karena menjadi orang yang unik, terkadang rada mirip dengan aneh (kesan negatif.red) tidak mudah lepas dari komentar orang, di bully, terasing, bahkan kesepian. Sebab tidak semua orang dapat memahaminya. 

Menjadi pahlawan harus sadar dengan hal itu, ia membutuhkan tekad dan keberanian moral untuk menembus tirai kesalahpahaman publik dan lingkungan. Itu baru tahap awal, dan dibutuhkan lebih banyak lagi tekad dan keberanian untuk “memaksakan” kehadiran pribadi kita dalam struktur kesadaran masyarakat. Inilah proses paling menegangkan dalam proses “pensejarahan” seseorang. 

Seninya adalah ia memaksakan penerimaan ini secara natural, karena kebaikan yang berserakan pada masyarakat itu terkumpul pada diri sang pahlawan. Maka kita Rasulullah SAW wafat, para sahabat terguncang, mereka menangis, ketika Ibu Ainun meninggal Habibie begitu terluka dan rakyat Indonesia berduka, pun ketika Uje meninggal Indonesia pun bersedih. Maka jika kau mau menerima takdir kesepian sebagai pajak dari keunikkanmu, maka niscaya masyarkakat akan membayar hal yang sama : kelak mereka juga akan merasa kehilangan. Percayalah.

Pelajaran pertama menjadi pahlawan biasa : Terimalah keunikanmu! Hadapilah!
Share:

Selasa, April 09, 2013

Tanah Surga... Katanya







Tanah Surga
Oleh : Salman

Bukan Lautan Hanya Kolam Susu, katanya...
tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu
Kayu dan Jala cukup untuk menghidupimu, katanya...
tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara
Tiada badai tiada topan kau temui, katanya ...
tapi kenapa ayah kau tertiup angin ke Malaysia
Ikan dan udang menghampiri dirimu, katanya...
tapi kata kakek awas ada udang dibalik batu
Orang bilang tanah kita tanah surga tongkat dan batu jadi tanaman, katanya...
tapi kata dokter intel belum semua rakyatnya sejahtera,
banyak pejabat yang menjual kayu dan batu
untuk membangun surganya sendiri
(Puisi inilah yang paling menarik dari Film ini)

Film drama Indonesia yang  dirilis pada 15 Agustus 2012 ini, di nobatkan sebagai film terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2012. Film yang disutradarai oleh Herwin Novianto,  dibintangi oleh Osa Aji Santoso dan Fuad Idris berhasil membawa pulang enam Piala Citra.'Tanah Surga...Katanya' mengalahkan film 'Demi Ucok', 'Soegija', 'Lovely Man' dan 'Rumah di Seribu Ombak'.  
Film yang diproduseri Deddy Mizwar itu berkisah tentang nasionalisme orang-orang yang tinggal di perbatasan antara Sarawak (Malaysia) dengan Kalimantan Barat. Tergambarkan bahwa kehidupan di wilayah Indonesia tak lebih makmur dibanding mencari penghidupan di wilayah Malaysia.
Share:

Rabu, Maret 20, 2013

ISLAM MENDUNIA!


ISLAM adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Mengatur urusan individu, masyarakat, negara bahkan dunia. Ustadz Hilman Rosyad pernah menyampaikan dalam twitternya @ustadzhilman tentang “Pentingkah dunia bagi kita umat Islam?” bahwa kita (muslim) mesti merebut kembali dunia ini dalam naungan Islam. Allah SWT tegaskan tugas kemanusiaan kita dalam QS 2:30 agar menjadi khalifah di dunia untuk merawatnya, mencegah kerusakan & merecovery-nya. Dan umat Islam paling bertanggung jawab atas kondisi dunia ini, dimana maksiat semakin meraja, dan dipimpim oleh kaum kuffar dan dzalim. Allah SWT juga mengutus Muhammad saw agar kita menjadi umat penabur kasih dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Jika individu mengatur dirinya dengan Islam (baca taqwa : melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya) dalam tingkah lakunya maka Islam akan menjadi rahmat pada dirinya. Jika Masyarakat mengatur urusannya dengan Islam maka Islam akan menjadi rahmat pada masyarakat tersebut. Begitupun juga Negara dan Masyarakat Dunia akan menerima rahmat penduduk negerinya jika urusan-urusan dunia tersebut berpanduan pada Islam. Jadi wujud rahmatan lil alamin itu merupakan proses Islamisasi dari individu sampai masyarakat dunia, jika saat ini belum tercapai, maka kewajiban kitalah untuk mewujudkannya.
Share: