Senin, Februari 02, 2015

Dauroh Fiqh #1





Gambar  Buku Mukoddimah Fiqh
 (cover suka-suka yang nge-print karena print e-book)

Jakarta - Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan ikut sebuah Dauroh 
(Training/Diklat) namanya “Dauroh Fiqh” bersama teman-teman Darush Shalihat (DS) 
VIII tanggal 17-27 Januari 2015 di Jakarta. Acara ini bekerjama dengan rumahfiqh
 (www.rumahfiqh.com) dan pembicaranya banyak dari pengisi website tersebut.

Banyak hikmah yang saya peroleh mulai dari awal proses sampai akhir dari 
perjalanan itu. Sayang bila tidak dituliskan ^^v. 
Saya akan menceritakan dari awal perjalanan… sok kita mulai ya… 

Share:

Senin, Januari 19, 2015

Yummy Yummy yuuii



Jogja Berhati Nyaman - Hal yang paling menyenangkan dan menjadi kenangan yang selalu dirindukan adalah
nikmatnya kuliner di Jogja,,, hehe,,,

  1. Pizza
Saya termasuk penggemar roti isi ini, tapi sayangnya gak semua pizza sesuai dengan mulut dan perut. Ada tempat makan pizza yang sudah terkenal tapi sayangnya saya selalu tidak cocok, ada aja kejadian setelahnya entah sakit perut kah atau apalah, mungkin karena produk boikot siii...huu..ada juga produk lain tapi belum oke rasanya.. Nah setelah finding dan tanya sana sini ada nih yang lumayan..

tempatnya di IL Mondo, pizzanya gak terlalu tipis, kayak pizza turki yang kayak di isi..dan rasanya enak ^^, insyaAllah juga halal walaupun belum ada label MUInya, hehe.

Tempatnya pun nyaman gak bising, desainnya  unik kayak zaman Belanda gitu


2. Siomay


Makanan satu (siomay kuah segar dan Yakishori) ini juga menjadi favorite apalagi kalo di tambah ramen cumi, okonomiyaki, dan takoyaki.. hmm jadi meleleh ni air liurnya. Makanan ini bisa di dapat di Bang jobress, ada di jalan kaliurang km 8 an, sama di jalan HOS Cokroaminoto. Di jamin HALAL!













3. NASI GORENG

Memiliki bahan dasar yang sama (nasi.red) tapi mengapa rasanya bisa berbagai macam ??? itulah inovasi yang dilakukan oleh Gotri! (jakal km 5) ada nasi goreng rasa rendang, kare, tomyam, vegetarian, rasa BBQ..dan gak hanya itu..seafood pun ada. Gak Nyesel deh mampir ksini... Harganya juga relatif sedang dengan porsi yang besar. Masih sekitar 10-20k. Bisa lah irit dikit untuk diluangkan waktu bisa kuliner sebulan sekali..

*akyu banget

4. Mie ayam jamur Blimbingsari
Tak ketinggalan makanan rakyat satu ini!
Apalagi kalo jelas no pengawet no vetsin dan halal. Alhamdulillah..

Bisa banget di nikmati hanya dengan 7k di Mie ayam Blimbing sari. #Aseeek


5. Bebakaran



Cumi lada hitam - tongseng jamur dan mocacino float by Bale Bebakaran :)

6. Cane Bungo jeumpa


Share:

Jumat, November 28, 2014

Rumah Tahfidz Teladan


Milano _ Idano_Hanao_Nayao ='p

November 2014- Life is learning... Wherever and whenever you are. Kesempatanku belajar saat ini tidak jauh berbeda dengan perjalanan kurang lebih  4 tahun yang lalu. Yaitu hidup berasrama, hidup berkomunitas, dan hidup dengan berbagai macam orang - berbagai karakter.

Rumah Tahfidz Teladan itu tempat dimana aku tinggal sekarang. Bersama dengan Bunda dan suaminya (Ayah.panggilannya-red) dan bersama dengan anak-anak RTT sebutan untuk rumah tahfidz teladan. Para asabiqunal auwalun itu ada Dije, Bila, Naya, Alma, Mila, Delonix, Amel, Aulia, Putri, Qonita, Ida, Adhwa, lalu ditambah Hana... Kesebelasan ditambah 2 wasit.. hehe
Adhwa cilik mengaji
Kegiatan disini mengaji mengaji dan mengaji. Habis Subuh mengaji sampai jam 5.30. Pulang sekolah anak-anak juga mengaji jam 16.00-17.00 lalu habis maghrib pun mengaji lagi sampai isya'. Tiada waktu tanpa mengaji... :) Pengalaman menarik adalah ketika mendampingi bocil-bocil ini mengaji. Dulu aku usia SD masih maen, baca komik.. blm tau ada namanya hafalan... taunya makanan...

Yuk lanjut kisahnya ....^^

Share:

Selasa, Oktober 14, 2014

Rabithah Untukmu....

Sayang itu terkadang terlalu malu diungkapkan pada objek subjek utama,
tapi dia “sumringah” diajukan pada objek-objek subjek-subjek pendamping.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu untuk diucapkan.
Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.
(penghujung Muharram 1433H)

Tulisan ini tentang ringkasan dari Buku “Syarah Do’a Rabithah” oleh Muhammad Lili Nur Aulia. Saya tulis sudah beberapa tahun yang lalu dan akhirnya menemukan buku ini kembali. Sayang sekali jika tidak  Saya tuliskan lagi disini.

Share:

Rabu, Juli 02, 2014

Kamis, Mei 15, 2014

TANPA RUH

KOSONG - Cobalah kamu tidak membaca Al Qur'an selama satu hari atau sepekan atau bahkan sebulan. Boro-boro sampai sebulan sehari saja sama sekali tidak membaca pasti ada yang hilang dalam dirimu. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak sholat?


Entah apa yang sebenarnya yang terjadi dalam hidupku beberapa waktu ini. Aku kehilangan spiritku. Kejenuhan yang sangat melihat keadaan yang tak kunjung berubah. Mengalami rutinitas yang sama, orang-orang yang sama, dengan koreksi yang sama. Mengapa kau tak kunjung berubah?

Aku merasakan lelah untuk mengingatkan, lama sekali aku menekan tombol "mute" pada sikap bawelku. Aku ingin melihat kepedulian dari orang lain, bukan hanya aku. 
Aku ingin melihat apa yang terjadi bila aku tidak peduli. 
Apa yang terjadi ketika tidak ada gerakan.

Miris - nila setitik rusak susu sebelanga itulah yang terjadi. Begitulah umumnya orang yang seharusnya "tidak boleh salah". Menjadi teladan adalah hukum mutlak orang yang dituakan. Aku tidak menolak anggapan itu. Dan itu hal yang wajar.  
Bukti bahwa lingkungan akan mempengaruhi sosok dan sosok itu akan mempengaruhi lingkungan juga benar adanya. 
Sebenarnya, aku berharap muncul sosok baru yang dengannya menghidupkan kembali cahaya yang hilang. 
Gayung tak bersambut, memang takdir tidak bisa dipilih. Ketika kita menghendaki perubahan dari lingkungan sekitar kita, mutlak harus melalui perubahan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Selayaknya, aku yang harus evaluasi diri untuk siapa amal ini... 

Berharap pada hasil yang terbaik, yang paling ideal, yang paling sempurna membuatku putus asa dan menarik diri dari lingkungan-kecewa. 
Tak mau berbagi adalah hal yang menyedihkan, aku sakit semakin akut. Bukanlah sakit fisik yang membuatku nelangsa kehilangan RUH-lah yang membuat hidup menjadi nestapa.

Aku baca lagi firmanNya :

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(Q.S. Al Kahfi 103-104) 

Haluan orientasi ini harus kembali pada jalannya, bisikku pada diriku sendiri. Nilai perbuatan kita bukan dinilai dari hasil yang diberikan oleh orang lain melalui tangan kita, tapi bagaimana melalui tangan-tangan kita inilah akan membuahkan hasil sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang.

Terus menanam, merawat, sehingga suatu saat nanti buahnya terasa nikmat ketika dimakan oleh orang lain. Begitulah arti dari nafi'un li ghoirihi paling bermanfaat bagi orang banyak. Itulah sebaik-baik manusia.

Ruh itu akan kembali dengan sendirinya ketika kita menambah rasa sayang kita pada Allah SWT dan menyayangi orang lain, umat ini melebihi diri kita sendiri.

kalo tidak bermanfaat mengapa jua kita masih melakukannya? kalo tidak di dunia insyaAllah di akhirat. pasti.


Sumber gambar : www.langitnilai.com
Share:

Rabu, Mei 07, 2014

Himmatuhusna



Sudah lama sekali sekitar tahun 2011 lalu, aku dipertemukan kembali oleh salah seorang temanku di Jama’ah Shalahuddin. Sebuah perbincangan singkat di social media, kami saling berbagi kabar dan aktivitas saat itu. Saat itu dia sudah menikah dan terus berdakwah. Sosoknya yang aku ingat saat kami berjibaku dulu adalah dia selalu membawa buku kemana-mana. Di buku itu juga dia tuliskan
 “APAPUN YANG TERJADI TETAP TULISKAN!!!” 
 “WALAUPUN KAMU LELAH TETAPLAH MENULIS” 
kiranya begitu kalimat motivasi yang tertulis dengan huruf KAPITAL dan berulang-ulang. Pertemanan kami memang singkat, karena semangatnya menuntut ilmu dinniyah membuat kami harus berpisah sementara waktu. Kalian tau apa komentar dia saat kami berjumpa lagi dalam percakapan singkat itu...

“Kalau avis, nama sebutan yang cocok buatmu itu himmatuhusna”
“apa itu artinya?”
“semangat yang baik, avis kan orangnya selalu semangat!!!”
“hehehe...”

Percakapan itu selalu ku ingat dan akhirnya kutuliskan kembali disini, dan nama itu aku labelkan di nama drive, flashdisk, email dsb....
Namun, entah mengapa saat ini aku merasa malu. Malu karena sepertinya aku tak semangat seperti dulu. Terlalu banyak pertimbangan untuk beramal. Merasa gagal dan putus asa pada semua yang pernah dilakukan.... Akhirnya kecewa dan menarik diri. Astaughfirullah...

Betapa mudah Allah itu membolak balikan hati. Makanya:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ».
“Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [10/181] as-Syamilah)
Sesuatu itu perlu dikembalikan lagi pada “ghoyah”nya... Allah ghoyatuna.... Ringan diucapkan tapi berat dalam amal. Kalau saat ini aku menyerah, kenapa aku menyerah? Apa setelah menyerah iman itu bertambah? Setiap tindakan dan alasan perlu kita pertanyakan kembali “apakah Allah ridho dengan apa yang kita kerjakan?”

“berlelah-lelahlah sampai lelah itu lelah mengikutimu”
 karena akhir perjuangan ini akan selesai ketika KAKI TELAH MENAPAK KE SURGANYA.

Merbabu 2013 _ dan menapak kaki dengan pasti... (izzis)

Share: