Sabtu, Juli 13, 2013

#harapan



1.       Manusia tidak bisa terlepas dari sebuah #harapan karena dengannya, dia mampu bertahan untuk hidup

2.       Hanya saja seringkali qt salah menempatkan #harapan itu pada akhirnya muncullah rasa kecewa

3.       kecewa adalah besarnya kenyataan lebih kecil atau sama dengan #harapan

4.       wajar ko kita berharap, justru yang tidak wajar kalo kita tidak pernah memiliki #harapan

5.       yang kita manage adalah memposisikan #harapan itu, kepada siapa kita pantas berharap, itu yang susyeeeh :p

6.       interaksi antar manusia seringkali membuat peluang untuk saling bergantung, pernah menolong orang artinya memberi #harapan bukan?

7.       pun ketika kita meminta tolong orang lain pastinya qt berharap ada yang memberi #harapan, siapapun itu

8.       disinilah posisi "berharaplah hanya pada Allah" bergeser pada yang namanya sosok manusia. padahal jelas3 manusia itu #harapannya terbatas

9.       disinilah posisi "berharaplah hanya pada Allah" bergeser pada yang namanya sosok manusia. padahal jelas3 manusia itu #harapannya terbatas

10.   gimana gak terbatas lha wong saling berharap ko. yang namanya #harapan itu menumbuhkan bukan mematikan

11.   #harapan bisa menumbuhkan karena manusia hanya sbg sarana. Sang Khalik adalah sumbernya, semua kembali dan terjadi karena kuasanya, iya to?

12.   #harapan juga bisa mematikan ketika mentok di sarana pemberi harapan tadi (manusia.red) akhirnya dia jadi putus asa

13.   contohnya gini ortu brhrp bgt anaknya lulus UAN sampai3 usaha apapun sdh disiapkan,si anak pun takut tdk dpt mengabulkan #harapan ortunya.

14.   apa yg terjadi? mereka sama3 takut kehilangan #harapan itu. ketika anak gagal, ortu dan anak sama3 malu. bahkan ada yg bunuh diri gara3 itu

15.   di Indonesia tingkat bunuh diri di dunia pelajar semakin meningkat, salah satu sebabnya karena salah menempatkan #harapan tadi. Cek aja!

16.   sbg muslim qt diajarkan untuk tawakal. dengan tawakal #harapan itu hanya pada Allah. dan qt menerapkan ayat ke 8 dari surat al Insyiroh

17.   yg artinya "..dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya km berharap". ayat ini sbg pamungkas dr gambaran kerja3 manusia yg mbuat berat #harapan

18.   sblmnya Allah menyatakan bhw Dia tlah melapangkan dada Nabi dan menyelamatkannya dr sgala mcm cemas, gelisah, susah ats #harapan pd kaumnya

19.   sebelumnya semua itu terasa sulit sampai datangnya kemudahan. maka Rasul pun tdk pernah gelisah dan tdk pula mengubah tujuannya #harapannya

20.   Pada akhirnya Allah memberikan padanya pertolongan pada beliau dg para pendukung yang mencintai dan mendukungnya sepenuh hati #harapan

21.   akhirnya kemudahan itu selalu muncul setelah rasa sempit, berat dan lelah. maka selayaknya qt tdk memutus #harapan itu smpai trwujud

22.   bisa jadi saat kita menyerah pada #harapan itu, ternyata hanya berselang sedikit dari datangnya pertolongan Allah

23.   belajar dari rasulullah yg senantiasa sabar, walaupun beliau telah tiada tapi #harapan itu selalu beliau wariskan, akhirnya qt yg meneruskan

24.   maka bisa dibilang #harapan itu adalah proses yang terus menerus kita tanam, bukan hasil yang diciptakan.

25.   pada manusia qt tanam dan terus qt siram tapi tidak semua berbuah #harapan yang baik.

26.   pada manusia qt tanam dan terus qt siram tapi tidak semua berbuah #harapan yang baik. jadi saling memberi kepercayaan bukan #php

27.   sementara ktk ingin berbuah #harapan yg baik, maka selayaknya qt berikan pada Allah, Allah tidak #php hanya saja qt tdk tau kpn waktunya

28.   wah wah begitulah bincangan tentang #harapan sore ini. semoga kita termasuk manusia yang tegar hingga puncak harapan ^^
Cokrokusuman, 22 Juni 2013

Share:

Minggu, Juli 07, 2013

the sooner is better



Sebuah perbincangan pagi

P : Saya ko tiba-tiba jadi takut lulus ya malahan, hehe
S : ada apa memangnya? Apa ada syarat yang harus dilakukan untuk lulus?
P : hehe, biasalah.. manusia ada kalanya takut dengan hal hal yang belum terjadi lagi mencoba memanage harapan-harapan kebaikan yang terkadang tipis dg nafsu .. :3
(menghela nafas sejenak)
saya kalo sudah lulus khawatir meninggalkan amanah, walau sudah dipersiapkan. Masih ingin belajar banyak hal sebelum ada gelar sarjana, dan kembali ke kampung halaman.
S : bagus itu mempunyai mimpi yang jelas... Tapi hidup punya prioritas, punya banyak pertimbangan untuk memilih.
P : (+.+) sedang menginstall kembali menuju rel eksekutif
S : amanah bukan “milik individu” dont worry. InsyaAllah roda disana akan terus berputar. Banyak yang sudah menanti. Lulus adalah prioritas utama selain sebagai aktivis dakwah kampus yang sukses kuliahnya, juga memberikan “kado untuk keluarga”.  Tak ada keluarga yang tak suka mendengar kita lulus. Semua alasan untuk menuda masih bisa kita lakukan setelah lulus. So, tunggu apa lagi J
P          : ^^..
S : the sooner is better :)

Bismillah...

*) sambil nyari-nyari modul lama untuk ngolah data



Share:

Senin, Juni 10, 2013

Menjadi Pahlawan Biasa #1

Ya. Menjadi pahlawan itu biasa. Dia tetap manusia biasa, tidak kemudian memiliki sayap, baju emas, atau tersempitkan makna menjadi orang yang dikebumikan di makam pahlawan, dibuatkan patung, menjadi salah satu nama museum dan sebagainya. Mereka yang memiliki kehormatan itu tetap pahlawan. Namun, masih banyak pahlawan di sekitar kita yang sering kali luput dari pengamatan kita. Seperti halnya tukang sampah yang istiqomah mengambil sampah di pagi hari, bila mereka sepekan saja mogok kerja siapa yang akan rela membawa sampah-sampah itu ke tempat pembuangan akhir? Pun juga tukang sapu jalanan, keberadaan mereka sering kali tak tampak, tapi ketidak beradaan mereka jelas memberi penampakan yang berbeda. Pernah suatu ketika saya akan sholat ied adha di Masjid Kampus UGM, lingkungan sekitar masjid dan kampus penuh sekali dengan daun-daun yang berjatuhan, sangat banyak, macam UGM terkena musim gugur saja. Entahlah apa yang terjadi, mungkin para tukang sapu sedang sibuk mengurus sapi, makan daging sapi, madiin sapi dll yang jelas sukses deh maskam jadi episode musim gugur, alhasil para jama’ah yang sholat dipelataran masjid mesti mengambili daun-daun itu dulu. Ya memang daun yang jatuh tidak boleh membenci angin, seperti halnya mereka menyukai tukang sapu. (lho?) kembali ke topik. 

Pada intinya menjadi seorang pahlawan artinya ia memiliki arti bagi orang lain, dia memiliki “nilai” yang tidak dipunyai oleh semua orang. Dia memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dari orang kebanyakan. Terjawab sudah kenapa kemudian tukang sapu dan tukang sampah tadi tidak cukup unik untuk masuk dalam daftar nama pahlawan di dunia, buku rekor MURI atau yang lain. Karena menjadi “UNIK” adalah beban psikologis yang tidak semua orang dapat memikulnya. Coba saja tukang sapu itu menyapu menggunakan kostum boneka bebek, dengan atraksi kungfu yang menarik, pasti dia dengan cepat masuk dalam daftar pahlawan kebersihan terunik versi on the spot.(hehe) Kenapa unik menjadi beban? Karena menjadi orang yang unik, terkadang rada mirip dengan aneh (kesan negatif.red) tidak mudah lepas dari komentar orang, di bully, terasing, bahkan kesepian. Sebab tidak semua orang dapat memahaminya. 

Menjadi pahlawan harus sadar dengan hal itu, ia membutuhkan tekad dan keberanian moral untuk menembus tirai kesalahpahaman publik dan lingkungan. Itu baru tahap awal, dan dibutuhkan lebih banyak lagi tekad dan keberanian untuk “memaksakan” kehadiran pribadi kita dalam struktur kesadaran masyarakat. Inilah proses paling menegangkan dalam proses “pensejarahan” seseorang. 

Seninya adalah ia memaksakan penerimaan ini secara natural, karena kebaikan yang berserakan pada masyarakat itu terkumpul pada diri sang pahlawan. Maka kita Rasulullah SAW wafat, para sahabat terguncang, mereka menangis, ketika Ibu Ainun meninggal Habibie begitu terluka dan rakyat Indonesia berduka, pun ketika Uje meninggal Indonesia pun bersedih. Maka jika kau mau menerima takdir kesepian sebagai pajak dari keunikkanmu, maka niscaya masyarkakat akan membayar hal yang sama : kelak mereka juga akan merasa kehilangan. Percayalah.

Pelajaran pertama menjadi pahlawan biasa : Terimalah keunikanmu! Hadapilah!
Share:

Selasa, April 09, 2013

Tanah Surga... Katanya







Tanah Surga
Oleh : Salman

Bukan Lautan Hanya Kolam Susu, katanya...
tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu
Kayu dan Jala cukup untuk menghidupimu, katanya...
tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara
Tiada badai tiada topan kau temui, katanya ...
tapi kenapa ayah kau tertiup angin ke Malaysia
Ikan dan udang menghampiri dirimu, katanya...
tapi kata kakek awas ada udang dibalik batu
Orang bilang tanah kita tanah surga tongkat dan batu jadi tanaman, katanya...
tapi kata dokter intel belum semua rakyatnya sejahtera,
banyak pejabat yang menjual kayu dan batu
untuk membangun surganya sendiri
(Puisi inilah yang paling menarik dari Film ini)

Film drama Indonesia yang  dirilis pada 15 Agustus 2012 ini, di nobatkan sebagai film terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2012. Film yang disutradarai oleh Herwin Novianto,  dibintangi oleh Osa Aji Santoso dan Fuad Idris berhasil membawa pulang enam Piala Citra.'Tanah Surga...Katanya' mengalahkan film 'Demi Ucok', 'Soegija', 'Lovely Man' dan 'Rumah di Seribu Ombak'.  
Film yang diproduseri Deddy Mizwar itu berkisah tentang nasionalisme orang-orang yang tinggal di perbatasan antara Sarawak (Malaysia) dengan Kalimantan Barat. Tergambarkan bahwa kehidupan di wilayah Indonesia tak lebih makmur dibanding mencari penghidupan di wilayah Malaysia.
Share:

Rabu, Maret 20, 2013

ISLAM MENDUNIA!


ISLAM adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Mengatur urusan individu, masyarakat, negara bahkan dunia. Ustadz Hilman Rosyad pernah menyampaikan dalam twitternya @ustadzhilman tentang “Pentingkah dunia bagi kita umat Islam?” bahwa kita (muslim) mesti merebut kembali dunia ini dalam naungan Islam. Allah SWT tegaskan tugas kemanusiaan kita dalam QS 2:30 agar menjadi khalifah di dunia untuk merawatnya, mencegah kerusakan & merecovery-nya. Dan umat Islam paling bertanggung jawab atas kondisi dunia ini, dimana maksiat semakin meraja, dan dipimpim oleh kaum kuffar dan dzalim. Allah SWT juga mengutus Muhammad saw agar kita menjadi umat penabur kasih dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Jika individu mengatur dirinya dengan Islam (baca taqwa : melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya) dalam tingkah lakunya maka Islam akan menjadi rahmat pada dirinya. Jika Masyarakat mengatur urusannya dengan Islam maka Islam akan menjadi rahmat pada masyarakat tersebut. Begitupun juga Negara dan Masyarakat Dunia akan menerima rahmat penduduk negerinya jika urusan-urusan dunia tersebut berpanduan pada Islam. Jadi wujud rahmatan lil alamin itu merupakan proses Islamisasi dari individu sampai masyarakat dunia, jika saat ini belum tercapai, maka kewajiban kitalah untuk mewujudkannya.
Share:

Minggu, Januari 27, 2013

Dari Rumah Cahaya menuju Rumah Cinta (bag.3-selesai)


“laa ta’mannaa ‘alaa yusuffa...” suara santri serempak membacakan salah satu bacaan ghorib dalam Al-Qur’ran.
Untuk wisuda nanti ada sesi semacam khataman, tapi kami tidak membaca  keseluruhan 30 juz, hanya juz 30 saja dari at-takasur sampai selesai, ditambah ayat-ayat pilihan dan do’a. Namun, karena kami membacanya bersama-sama  jadi perlu latihan agar nyaman bila didengarkan.
“Assalamu’alaykum...” sapaku,
“Wa’alaykumsalaaaam....” jawab teman-teman.
“sini vis, sinii..kamu baris sebelah sini..”celetuk  mb evi dan alifah bersahutan.
“waaah, tugasku ngapain aja nih, yang jelas besok aku  manuut aja ya... hehe”
Dari pengarahan  mba puji besok saat wisuda urutannya seperti ini, santri dipanggil satu per satu menuju panggung sesuai urutan baris saat ini, kemudian bersama-sama mengucapkan salam baru duduk, setelah itu baru membaca surat at-takasur sampai selesai, dilanjutkan do’a, membaca ghorib dan satu per satu  menyebutkan hukum tajwid sesuai urutan. Kemudian baru perwakilan santri maju ke depan untuk presentasi makalah.
“Insyaallah besok Jumat sore kita gladi bersih di aula perpustakaan fisipol UGM bersama Bu Alfi,” tambah mba puji sebelum pengarahan di tutup.
Aku masih mencoba memasukkan aura-aura yang sama agar bisa seirama dengan teman-teman untuk acara ini, lebih dari sebulan kami merencakannya, semoga kami bisa memberikan yang terbaik, begitulah yang selalu ditanamkan ke para santri. Kami mencoba menghargai 2 tahun kami belajar di Asma Amanina, dan harapannya ilmu yang kami dapatkan ini barokah serta keluar dengan husnul khotimah. 

Bukan untuk orang tua kami yang datang agar bangga melihat kami, bukan pula untuk menghibur para tamu dengan persembahan kami, ataupun pun agar dipuji oleh para penguji saat khataman besok. Tidak. Kami semua berusaha bersyukur pada Allah atas semua nikmat yang telah kami terima disini dan berterima kasih pada para pemandu, guru, dan asatidz yang telah sabar membina kami. Kesungguhan kami untuk berlatih dan berusaha melakukan terbaik yang bisa kami lakukan adalah hadiah terbaik untuk mereka.
“aviiis, kamu sudah punya foto belum..?” tanya yessy
“hah.!? Foto buat apa e?” ku balik bertanya.
“ahh, kamu nih kebanyakan pergi sihh,,”tegurnya “ini lho foto buat ditampilin buat besok sama buat ijazah..” tambahnya
“hehe,, iya ya yess, meh melu po?hoho.. wah aku gak punya fotoe” jawabku sambil bergurau
“yaudah kalo gitu, ayo ke mushola, yang pada gak punya foto, kita foto dulu, kamu siap2 ya!!” perintahnya
“oke bos!” jawabku
Aku belum pernah wisuda, jadi sangat menikmati persiapan-persiapan ini, mesti pakai ini itu, kalo gak ada ribut deh cari pinjaman, dan tak terasa esok adalah hari H wisuda.
 ***
Share:

Dari Rumah Cahaya menuju Rumah Cinta (bag.2)


“apa visi misi etos, mbak avis?” tanya pak agus menyadarkanku dari lamunan.
oh ya, saat ini aku sedang menyambut tamu dari manajemen pusat, dan  kita semua sedang dalam perjalanan  menuju lokasi tempat forum manajemen diadakan.
“belum tahu pak, hehe” jawabku  jujur. “apa mbak un? tanyaku polos,
“wah gimana ni mba uni, segera ditransfer dong, biar tahu visi besar kita!” kelakar pak agus sambil tertawa-tawa.
sambil menyodorkan HP nya untuk ku baca mbak uni menjawab, “ini lho piis, bisa dilihat di webnya etos,hehe..”
“Ooo...yaya”  ku jawab dengan lemah dan  kembali diam menerawang.
Semalam an  itu kuberusaha menjadi anak baiknya, yang diam, mendengarkan, dan mencoba memahami apa yang dibicarakan di forum itu, mengenai perkembangan etoser, bagaimana perkembangan IP mereka, perilaku di asrama, prestasi-prestasi yang mereka goreskan, bagaimana mereka mencukupi kebutuhan finansial mereka, dan agenda-agenda sosial yang mereka kerjakan, serta apa yang sudah  manajemen lakukan untuk meningkatkan  kualitas mutu  pembinaan dan bla bla bla. 

Aku memandang gelisah jam  yang saat itu sudah menunjukkan pukul 21.30 tapi sepertinya forum belum  jua akan berakhir. Akhirnya dengan terkantuk-kantuk pukul setengah 12 malam  kami tiba di Asrama Etos Pandega, cukup menjadi rekor pertamaku dengan status masih menjadi santri yang melanggar  jam  malam. Semoga  melewati  jam malam ini bukanlah tanda kefuturan  pikirku menghibur diri.

Share: