Minggu, Mei 15, 2011

MUSLIMAH PEMBANGUN PERADABAN


Prolog
Suatu ketika ada seorang ukhti kecil yang bertanya padaku, “mba, sepenting itukah kemuslimahan? Sehingga harus ada wadah sendiri untuk menghasilkan sebuah kontribusi?” kurang lebih seperti itu pertanyaannya. Waktu itu aku hanya diam, tak cukup sedikit kata untuk memuaskan logikanya, pikirku waktu itu. Biarlah waktu yang akan membelajarkan hati dan menemukan dinamika akal yang ‘kan terus berpikir untuk menemukan jawabnya sendiri. Namun, kemudian aku berpikir kembali, setidaknya aku akan mencoba untuk menjelaskannya melalui cara lain, salah satunya melalui tulisan ini.
Siapakah sosok muslimah itu?
Mari kita coba menjawab pertanyaan di atas dengan membedakan antara beberapa istilah yang biasa kita gunakan, yaitu : cewek, perempuan, wanita, akhwat, dsb. Adakah terlihat sebuah perbedaan? Ya tentu saja yang pertama adalah penulisannya. Kedua, perbedaan bahasa, agar orang lebih mudah menggunakan konteks dan istilah tadi untuk mempermudah penggambaran bagi lawan bicara. Ketiga, adalah perbedaan persepsi. Persepsi inilah yang membawa kita membedakan istilah tadi berdasarkan simbol, ideologi, keyakinan, rasa, konteks sosiologisnya dsb. Namun, iman Islam menyatukan istilah tadi dalam naungan nama MUSLIMAH, yaitu seorang perempuan, wanita, cewek, akhwat yang beragama Islam. Oleh karena itu, menjadi kurang pantas apabila kita enggan untuk mengikuti acara kemuslimahan dengan alasan “saya kan ga muslimah banget” ataupun kita merasa lebih dengan jilbab yang besar dan panggilan akhwat, akhirnya merasa malu untuk berkumpul dengan para cewek yang baru semangat-semangatnya belajar agama.
Islam untuk semua, hak hidayah tidak boleh kita pangkas hanya karena kita “malas” atau “persepsi” sudah membutakan mata hati kita hingga pakaian kebesaran menjadi lebih besar daripada pakaian taqwa.
Ada dua hal mendasar yang membedakan sosok muslimah ini, adalah : para muslimah yang mengangkat beban dan membebani. Dia muslimah yang meringkankan beban, pengangkat yang lemah, merasakan tanggungan , kekhawatiran kesucian diri dan permasalahan umat ataukah dia yang penyandar, membiarkan sesama dan memberati pundak-pundak.

Kemarin yang jauh, saat ini yang singkat dan hari esok yang panjang
Napak tilas sosok wanita
Islam telah sangat memuliakan wanita setelah berabad-abad sebelumnya keberadaannya tak lebih dari sekedar mainan yang akan disingkirkan setelah bosan, bersikap sewenang-wenang padanya dan merendahkan derajatnya (Q.S. 81;8-9).
Al-Qur’an telah mengisahkan kepada kita ragam keadaan dan sikap kaum wanita. Allah memuji sikap istri Nabi Ibrahim, istri fir’aun, dan Maryam putri Imran. Al-Qur’an juga menyebutkan perasaan malu putri Syu’aib, dan mela’nat pula sikap istri Nabi Nuh, istri Nabi Luth, istri al-Aziz (penguasa mesir zaman Nabi Yusuf) dan istri Abu Jahl. Tidak ada keraguan posisi kaum wanita dalam membantu penyebaran Islam dan menegakkan kebenaran dan pada kondisi lain membantu suaminya dalam menunaikan misi hidup di dunia.
Wanita menjadi terangkat kedudukannya bersamaan dengan turunnya wahyu, tapi mulai kehilangan fungsi dan posisinya kembali pada masa-masa sinar wahyu mulai redup dan Islam mengalami kemunduran. Di antara keadaan dan undang-undang manusia yang melanggar hak-hak kaum wanita bahkan menganggap mereka seperti sampah, barang dagangan, hak-haknya di batasi atau malah terlalu dipertuhankan sebagaimana digambarkan sejarah negara Yunani, Romawi, Persia, Yahudi, Nasrani dan Arab Jahiliyah sebelum Islam memuliakan derajat wanita (lihat lebih lengkap wikipedia.com).
Wajah para wanita hari ini
Sementara itu, saat ini, pasca perjuangan R.A Kartini usia dan membuahkan hasil yaitu persamaan derajat antara hak laki-laki dan perempuan. Kita melihat begitu banyak fenomena yang keluar dari kodrat wanita yang biasanya. Mari kita tuliskan satu per satu fenomena tersebut,
1.       Ekploitasi wanita dalam pemasaran produk/iklan, baik dalam bentuk media cetak, audio, audio-visual, dan internet,
2.       Jual beli wanita dan anak-anak (kasus traficking di berbagai negara),
3.       Kekerasan dalam Rumat Tangga (KDRT) sebagian wanita menjadi korban utama,
4.       Wanita menjadi center of interest dalam acara-acara yang ditampilkan di televisi maupun media lain. Contoh : mama mia, miss universe, miss indonesia, miss sunsilk, dll...,
5.       Permasalahan kesetaraan gender diangkat oleh kaum feminis, sehingga menimbulkan kontroversi, seperti : wanita menjadi Imam sholat, para wanita menuntut masa iddah bagi para laki-laki, pembagian hak waris, pemutusan hak cerai dll,
6.       Kasus-kasus pornografi, pornoaksi, pergaulan bebas, aborsi, nikah siri, perceraian, terus meningkat sampai saat ini. Mirisnya semua itu melibatkan adanya peran sosok wanita dalam masalah tadi, entah perselingkuhan dengan wanita lain, pakaian para wanita yang terlalu vulgar/tidak menutup aurat, sampai peran seorang orang tua khususnya ibu terhadap anak-anaknya.
7.       dll
BEBAS, mungkin satu kata ini cukup untuk menggambarkan wajah perempuan hari saat ini. Bebas bicara, bebas berperilaku, bebas bertindak, mau menutup aurat sampai menutup seluruh tubuh (memakai baju kurung.red) atau (maaf) berbusana tapi telanjang pun silakan, yang penting kita sama-sama saling menghargai, betul? So, what do you think?
Meneropong masa depan sosok wanita
Islam mengharapkan para wanita dapat berdiri tegak dan kokoh di antara 2 arus besar, yaitu : keterkekangan jahiliyah dan kebebasan barat. Karakter yang teguh ini hanya dapat dimunculkan dengan pemahaman aqidah yang benar, pemahaman yang luas akan Islam dan  kehidupan serta menunaikan segala kewajiban atas Tuhannya, suami, anak-anaknya, masyarakat dan umat islam secara umum. Dari situ akan terwujud para pribadi muslimah yang da’iyah, murabbiyah, dan mursyidah sehingga sosok ini dapat memacu terbentuknya para  putra-putri yang berkepribadian Islam, serta masyarakat Islam yang bercita-cita membangun kejayaan Islam kembali sampai menjadi rahmatan lil’alamin.
Sosok wanita secara fitrah memiliki ketajaman hati melebihi sosok laki-laki, memiliki kelembutan baik dalam hati, sikap maupun tutur kata, yang secara alami sudah kita punya mesi tak kita minta. Ia (wanita) juga ditakdirkan memiliki sifat sensitif yang sangat, sensitif terhadap pendengaran, sensitif terhadap harta, dan sensitif terhadap penglihatan. Lihat saja, berapa kali seorang perempuan menyebutkan kata “lucuuu....” saat melihat barang yang dia sukai, berapa puluh ribu wanita yang jatuh cinta oleh bujuk rayu sosok laki-laki yang tak sedikit yang tak dapat membuktikan kata-katanya, atau seberapa tahan seorang wanita untuk tidak menginginkan perhiasan yang indah, rumah yang mewah, kenyamanan, dan kemanjaan diri. Parahnya, laki-laki itu lemah dengan wanita, hingga dengan menghalalkan segala cara, apapun mereka lakukan untuk dapat memenuhi keinginan istri, anak, wanita pujaan hati atau bahkan ibu mereka. Dan mereka semua kita sebut denga wanita.
Jadi,  bila tidak ingin para wanita (kita) menjadi lingkaran setan, sebab-akibat datangnya murka Allah. Maka, kita harus dapat berdiri kokoh di tengah-tengah kebodohan tadi. Kita masih bisa menjadi bunga harapan di hari esok yang sangat panjang itu, dengan mengkokohkan shibghoh Allah pada diri kita. Shibghah Allah, Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah (Q.S.Al baqarah 138)”, dan setidaknya memiliki 3 karakter masa depan yakni :
-          mampu menajamkan dan menyelesaikan permasalahan umat Islam,
Rumah tangga OK, keluarga OK, masyarakat OK, dakwah OK, kontribusi maksimal untuk menjadi sebaik-baik umat. 
-          Tidak merasa puas dengan keadaan rumah yang aman,
Menjadi seorang ibu yang memiliki tanggung jawab utama terhadap anak dan akhlaknya, bukan hanya sehat secara fisik, tapi sehat secara ruhiyah (rohani), fikriyah (pemikiran), jasadnya (fisik) dan bahkan cara bersosialnya (muamalah).
-          Mempunyai kekuatan visi yang besar.
Mempunyai pandangan yang luas dalam kehidupan dan berkarya. Ada seorang ibu yang bercita-cita menjadikan semua anaknya seorang mujahid, ada seorang ibu yang mampu menggerakkan semua anggota masyarakatnya untuk memerangi kemiskinan dengan berjualan, ada seorang ibu yang mampu mengentaskan anak jalanan, ada banyak ibu-ibu palestina yang mampu mengajak semua warganya untuk turut serta dalam pemilihan umum meski pada saat itu perang sedang kecamuk.... semua itu tidak akan didapat bila kita menjadi seorang wanita yang mudah putus asa, tapi lahir dari sosok muslimah yang memiliki VISI BESAR, PANJANG, dan KOKOH!
Satu kata untuk masa depan wanita : HARAPAN!
Mampukah kita menjawab tantangan harapan itu?


Mengapa harus (khusus) muslimah?
Masih saja ada pertanyaan dalam benak kita, mengapa harus secara khusus? Bukankah saat kita berorganisasi kita juga berinteraksi dengan wanita, menangani wanita, bahkan sekali dayung dua tiga pula terlampaui, kita bisa sekalian melakukan sebuah pengelolaan laki-laki dan wanita sekaligus, secara media pun selalu tetap terekspos, lalu apa masalahnya?
Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, jumlah perempuan sebesar 49,92% dari seluruh penduduk Indonesia. Artinya secara kuantitatif, jumlah perempuan menempati hampir separuh dari masyarakat Indonesia. Dari 93.722.000 orang pekerja di Indonesia tahun 2004, terdapat 33.141.000 orang perempuan atau sekitar 35%. Jumlah sedemikian tentunya bukanlah sebuah kekuatan yang bisa dianggap kecil. Bayangkan, andaikan saja terjadi sebuah kemufakatan seluruh perempuan di Indonesia untuk melakukan suatu tindakan bersama, mogok makan atau mogok kerja massal untuk memboikot pemilu misalnya, niscaya huru-hara akan sulit dikendalikan. Meskipun jumlah tidak selalu berkonotasi positif dengan kualitas, namun secara sederhana dapat pula dipahami bagaimana signifikannya posisi perempuan dalam membangun sebuah peradaban mumpuni di atas dunia ini.
Rasulullah SAW bersabda bahwa “Perempuan adalah tiang negara”. Hancur atau majunya suatu negara tergantung bagaimana kondisi perempuan yang ada di dalamnya. Musuh-musuh Islam yang memahami peran wanita terus menyeret kaum wanita ke dalam perangkap propagandanya dengan didukung perangkat-perangkat di bidang budaya, ekonomi dan politik. Pemahaman para muslimah yang lebih condong pada perilaku hidup konsumtif, hedonis dan mendewakan kecantikan, tidak serta merta timbul begitu saja. Ia berasal dari suatu usaha yang terorganisir rapi. Perlahan tapi pasti, usaha tersebut mencapai targetnya. Mereka para musuh Islam, yang melakukan usaha ini hanya perlu menjauhkan orang Islam dari Al-Qur'an sebagai pedoman hidupnya, merayu wanita Islam untuk membuka hijabnya dengan sukarela tanpa paksaan. Sebagaimana yang dikatakan Snouck Hongraye, ”jangan larang mereka beribadah bahkan fasilitasi, tapi buat mereka malas dan lalai membaca Al-Qur'an dan bikin wanita-wanita Islam kehilangan rasa malunya.” 1

Jelas sekali bahwa wanita memiliki peran strategis, dan kemulian ini memang harus di jaga oleh para wanita sendiri, walaupun tidak menutup peran laki-laki untuk ikut andil di dalamnya. Seperti firman Allah : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Dan mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan  sembahyang, menunaikan  zakat dan mereka taat kepada Allah, dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya  Allah  Maha  Perkasa  lagi  Maha  Bijaksana. ”  (QS. At-Taubah: 71).

Mempunyai wadah pembinaan secara khusus karena kita (muslimah) beda. Baik dari segi kepribadian, dinamika fisik/hormon, minat, bakat, maupun potensi dsb, dalam diri wanita sendiri pun sudah terbentuk keragaman karakter yang unik. Hingga disimpulkan bahwa setiap wanita itu cantik, dan mereka cantik dengan kecantikannya masing-masing. Sangat disayangkan bila kita salah mengelola kemuliaan ini ataupun sembarangan merawatnya hingga tidak teroptimalkan dengan baik, sehingga menjadi kelebihan ini akan bumerang yang dapat menghinakan diri kita sendiri.


Epilog
Sesunguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah nasib mereka sendiri (Q.S.13;11). Kita bahkan menyadari bahwa hanya ada seorang pengangkat beban untuk tiap duapuluh orang yang membebani. Seringkali diantara para pengangkut beban pun tak sepenuhnya total dalam mengangkat beban yang diampukan kepadanya, hingga mereka seakan-akan sudah turut mengangkut beban. Semestinya beban dapat dibagi menjadi rata, tapi alhasil hanya orang tertentu yang benar-benar mengangkat beban dan dialah orang yang paling banyak belajar serta mengambil banyak hikmah. Semoga Allah meridhoi-nya.
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. At-taubah;105)
Masihkah kau ragu?
Ya Rabb, jangan palingkan hati kami setelah petunjuk-Mu datang. Karuniakanlah kami rahmat-Mu karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
Allahu’alam bishowab

Rumah cahaya, 4 safar 1432 H/7 Februari 2011, 11.56 am
Share:

Rabu, Desember 29, 2010

Jumat, Desember 24, 2010

Puisi Cinta

PUISI CINTA
(anis matta)

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita tidur saling memunggungi

Tapi  jiwa berpeluk – peluk
 senyum mendekap senyum

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Raga tak saling membutuhkan

Hanya jiwa kita sudah lekat menyatu
rindu mengelus rindu

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita hanya bisa mengisi waktu dengan cerita
Mengenang dan hanya itu yang kita punya

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Kemana cinta kan berakhir, di saat tak ada akhir.

Share:

Kamis, November 25, 2010

Lesson today

Awalnya aku berpikir ketika kita menolong jangan hanya berefek seperti “korek api”. istilah ini ku dengar dari adek tingkatku saat kami tergabung dalam tim kuliah kerja dakwah.
Paradigma tadi berubah seketika, saat aku hampir menyerah dan merasa sangat sedikit hal yang bisa kuberi. Lalu aku teringat korek api, akankah aku hanya seperti dia? yang hanya berefek sesaat....?
Yang hanya bisa memberi sedikit cahaya
.............
.............
.............
Otak ini berputar dan logika ini tergelitik...
Mengapa tidak?
Korek api itu memberikan cahaya walau sesaat
Korek api itu memberikan kehangatan walau sejenak
Korek api itu memberikan kehidupannya untuk menghidupi yang lain
Korek api itu memberikan cahayanya pada lilin, obor, lampu teplok, api ungun, ....
Korek api itu memberikan seluruh hidupnya yang sejenak untuk orang lain...
....
Aku tertegun, logika ini menarik bagiku...
Selama ini ak terlalu meremehkan korek api dan aku lebih menyukai lilin,
Tapi ternyata ia jauh memberi andil kehidupan lebih dari yang aku sadari...
Sehingga bersemilah perasaan “cukup” itu...
Perasaan qona’ah...
Bahwasanya cukuplah aku menjadi korek api,
Tidak ada masalah....
Aku memang bukan matahari yang selalu tegar menyinari bumi...
Selalu bermanfaat menumbuhkan alam...
Tapi sebatang nyala korek api sudah cukup untuk menghiasi kegelapan dengan cahaya,
memberikan kehangatan, memberikan petunjuk dalam waktu yang singkat.

Dari pada terus mengutuki kegelapan..
Dan berharap sang mentari datang bersama sang pagi..
Lebih baik,
nyalakan api sekarang!

Maguwoharjo, 25 November 2010 14;53
Share:

Rabu, Juli 08, 2009

Tak Selamanya Ngandong Naik Kuda

Gunung Andong (29/07/09) - Setelah sekian lama akhirnya mimpi itu terwujud kembali, satu tahun lamanya aku menunggu, akhirnya kesabaran itu membuahkan hasil, perjumpaan itu kembali kutemui disini, hari ini. Puncak, tanpa atap, menuju ke atas, Pasti! Ketika seorang anak bermimpi, dia akan selalu bermimpi dengan membayangkan angkasa luar, melihat bintang, menggapai awan, langit luas tanpa batas, tanpa atap. Namun, semakin bertambahnya usia bertambah pula keinginannya, langit yang awalnya tak beratap itu sekarang berubah menjadi sebuah rumah lengkap dengan eternit dan gentingnya. Dari bawah terlihat terbatas, tak terlihat, dan dengan atap. Kalaupun atap kita ubah dengan kaca, tetaplah hal itu akan menjadi glassceiling effect bagi kami, keterbatasan itu telah muncul dan akhirnya bisa membuat kami nyaman dengan standar ini dan membuat kami mudah memaafkan diri dengan keterbatasan pandangan kami.
Namun, kehidupan di luar sana mengajarkan hal yang berbeda bagi diriku. Jika penduduk setempat dapat sampai ke puncak gunung Andong dalam waktu setengah jam. Maka kami, khususnya aku baru bisa menikmati puncak 2,5 jam lebih lama daripada para penduduk asli di sana. Memalukan memang, tapi itulah perjuangan yang bisa dicapai. Perjuangan sel darah merah pengangkut oksigen yang harus berlari lebih cepat dari biasanya untuk mengirimkannya ke otak. Jantung yang bekerja 2x lebih kencang untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh, paru-paru yang tak henti-hentinya untuk menangkapi oksigen yang berhamburan, otot-otot kaki dan tangan pun tak mau ketinggalan, “ayo kaki kamu pasti bisa melangkah lagi, sedikit lagi…sedikit lagi… “ tangan dan pundak harus tetap kuat menyangga, beban yang ada dipundak ini adalah amanah, amanah yang harus dipikul oleh kita sendiri. Jalan begitu terjal, sedikit bosan dengan jalan yang ditapaki orang-orang, kucoba jalan lain, yang ternyata membuat adrenalinku meningkat. Lebih cepat tapi juga lebih terjal, miring,dan berpasir, alang-alang ini juga tak mau kalah ingin meninggalkan jejaknya di tanganku, tergores sedikit tak mengapa, teman-temanku sudah memanggilku lekas naik, foto dulu… (jepret…!) ternyata zaman ini sudah jauh berbeda, dalam kesempitan dan keputusasaan pun tak membuat kami lupa untuk merekam semua puzzle kehidupan yang tengah kami lalui, narsis lebih tepatnya =).

Walau tertatih kaki ini berjalan, rindu syahid tak akan tergoyahkan.. wahai tentara Allah bertahanlah! Jangan menangis walau jasadmu terluka…sebelum kau bergelar syuhada tetap bertahan dan bersiap siagalah…
Saat mudah bagi Allah untuk menyentilku jatuh dan menggelundung ke bawah, mungkin akan asyik juga membuat tubuhku ini dapat menggelinding seperti trenggiling yang berguna untuk melindungi diri, tapi sayangnya aku tidak bisa seperti itu, dan imanku pun tak mampu menempatkanku bergelar syuhada untuk saat ini, jadi aku lebih memilih untuk tetap berdo’a dan berhati-hati dalam melangkah.
Jalan ini jalan panjang penuh aral yang melintang…namun jiwa tetap arungi…tuk Illahi…

Semangat wahai saudaraku untuk menggapai cita!
lantunan itu dengan sendirinya terlantun ke dalam sukma, setapak demi setapak terus saja diarungi sampai tak terasa perbekalan pun menipis, air habis, Alhamdulillah gula jawa menjadi solusinya. Terimakasih teman telah memberikannya padaku. Lanjutkan! Itulah kata yang bisa kita katakan.
Terlihat dari kejauhan bendera berwarna putih hitam dan kuning, serta bertuliskan Parta Keadilan Sejahtera, menjadi sebuah pemandangan yang sejak tadi kami rindukan. Puncak! Inilah titik itu, mantapkan hati. Entah berapa ketinggian dari tempat aku berdiri ini, jika lebih dari 2000kaki maka tempat ini layak disebut gunung. Entahlah… aku hanya merasa tak ada atap disini, tak ada puncak lain disini. Jadi aku sudah sampai pada titik puncak tahap awal sampai menuju tahap selanjutnya yang kian berat.
Jika jikustik mengatakan “pandangi langit malam ini” maka aku yang ada di atas ini kan berkata “pandangi dan nikmati alam ini” tak ada sesuatu pun yang ingin kami rubah dalam kesempurnaan alam yang terlihat dari atas. Ciptaan manusia, dan keberkahan dari Allah SWT. Itulah anugerah.
Share:

Rabu, Mei 28, 2008

Untukmu Kader Dakwah




Judul Buku       : Untukmu Kader Dakwah (seri PDF)
Pengarang       : Ust Rahmat Abdullah
Tebal                : 78 halaman
Tahun              : 2005

Wanna share about content this book :
 Buku ini merupakan kumpulan dari artikel-artikel Ust Rahmat yang dimuat dalam rubrik asasiyat, majalah Tarbawi. Dari beberapa artikel, berita, profil serta hasil wawancara  dengan pengarang, saya tertarik untuk membahas tentang beberapa diantaranya, yaitu :

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguhsungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad. (halaman 27)
Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka. Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita : “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”. (halaman 28)

Militansi. Sebenarnya apa arti kata militansi itu?militansi dari kata militan, kalau di kamus besar bahasa Indonesia militan artinya bersemangat tinggi;penuh gairah; berhaluan keras, sedangkan militansi artinya ketangguhan dalam berjuang (menghadapi, kesulitan, berperang, dsb). Kemudian siapa yang pantas disebut militan? Apakah orang yang berani rela bolak-balik bandung-jakarta dapat disebut militan?atau orang yang menyelesaikan semua amanahnya dengan sungguh-sungguh sudah dapat disebut militan?
Mungkin dua-duanya dapat disebut militan tergantung kebutuhan mana yang harus dipenuhi. Hanya saja akan menjadi masalah apabila kita mengeneralisasi bahwa orang militan pasti orang yang melakukan banyak pengorbanan yang bersifat fisik, dan memandang sebelah mata orang yang berdiam diri menyelesaikan amanah. Bisa jadi orang yang duduk tenang menyelesaikan tugasnya itu lebih militan, karena dia lebih dapat melawan hawa napsunya untuk tidak beranjak dari tempatnya alias dia mampu mengalahkan dirinya sendiri. Bukankah jihad yang paling berat adalah mengalahkan hawa napsu?. Hmm...pernyataan ini bukan berarti menyepakati kita harus berdiam diri terus dan menunggu kekalahan hawa napsu pribadi dulu baru kemudian bergerak ke arah yang lebih luas. Sebenarnya berjuang mengalahkan diri sendiri akan terus  berjalan sampai ruh terlepas dari raganya, hal itu memang akan terus mengusik kita sampai kita akhirnya menuruti hawa napsu, itulah yang diinginkan syaitan. Namun, sembari kita sibuk dengan diri kita tadi, hak orang lain untuk diri kita tidak boleh terlupakan dengan bergerak itulah hal itu dapat terpenuhi. Bergerak di sini yaitu kita bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah SWT yang dapat kita cari dimana pun kita berada.
    ^_^

Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta. Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri.
Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang berilmu, kaya dan seterusnya.(halaman 29)

Seringkali saya pribadi tidak sungguh-sungguh menghargai apa yang telah dihasilkan oleh orang lain jika saya tidak mengetahui bagaimana proses dia menghasilkan karya itu. Contohnya saja saat ini apa-apa yang saya terima berasal dari uang orang tua, mudah saja uang itu saya habiskan untuk entah apapun itu bermanfaat atau tidak dan saat habis bisa kita minta pada mereka kembali. Orang tua mana yang tega melihat anaknya menderita.. memang benar kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan.
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."
(Q.S. Al-Ahqaaf;15)
Share:

Minggu, Mei 25, 2008

Al-Qiyadah Wal Jundiah



\
Judul Buku       : Al-Qiyadah Wal Jundiah
Pengarang       : Syaikh Mushthafa Masyhur
Tebal                : viii+173 halaman
Penerbit          : Al-I’tishom Cahaya Umat
Cetakan           : II, mei 2006

Wanna share about content this book :
Halaman 92
Pengalaman telah menunjukkan, bahwa semangat yang berkobar-kobar di kalangan anggota tertentu, bukan berarti sebagai bukti kekuatan iman dan kehebatannya dalam berjuang dan berkorban. Malah sering orang yang semangatnya berkobar-kobar, pada mulanya beranggapan dengan semangat seperti itu akan mempercepat pencapaian tujuan dan cita-cita. Tetapi, karena tujuan yang akan ditempuh panjang, maka hanya orang-orang yang sabar menanggung segala derita dan tekun saja yang patut menyertai perjalanan jamaah ini. Karena itu, orang yang terlalu bersemangat sebenarnya sangat berbahaya kalau didudukkan di tempat strategis. Sebab tidak mustahil ia akan menyalahgunakannya atau malah berhenti ditengah jalan setelah mengalami kesusahan.

Ketika membaca tulisan itu, saya pribadi langsung tersentak sekaligus terpukul membacanya, dan berpikir betapa berbahayanya saat saya menjadi seseorang yang sangat bersemangat terhadap sesuatu dan kemudian tidak meneruskannya sampai akhir. Tidak hanya diri sendiri yang merugi tapi orang-orang disekitar pun juga menanggung akibatnya.
Memang saya merasakan sendiri bahwa saat menemukan sebuah ide bahkan beberapa ide yang bisa saja disebut cemerlang secara tidak langsung setiap orang pasti ingin mewujudkannya apalagi bila ide tersebut terkait dengan orang banyak dan dapat bermanfaat mereka. Maka keinginan untuk segera mewujudkannya membuat saya sangat bersemangat, ”semangat yang berkobar-kobar” dan istilah itu betul sekali, seperti layaknya api besar yang melalap semua benda yang ada didepannya. Saat itulah bisa saja semangat itu bercampur dengan napsu, karena ketika harapan-harapan yang ingin diwujudkan tadi tak dapat segera terwujud, dikarenakan orang lain belum siap menerima ide itu ataupun lingkungan yang tidak mempunyai semangat yang sama untuk mewujudkannya. Maka yang terjadi selanjutnya adalah timbul kekecewaan pada jamaah dan kandasnya impian itu.
Dalam buku ini dikatakan ”Karena itu, orang yang terlalu bersemangat sebenarnya sangat berbahaya kalau didudukkan di tempat strategis. Sebab tidak mustahil ia akan menyalahgunakannya atau malah berhenti ditengah jalan setelah mengalami kesusahan.”
Sungguh ironis memang, saat ada anggota yang benar-benar bersemangat tapi tak ada wadah yang sanggup menampung semangat itu dan orang-orang disekitarnya tak mampu mengimbanginya. Kemudian apabila hal itu terjadi siapakah yang patut dikasihani anggota yang bersemangat tadi? Ataukah orang-orang disekitarnya yang tidak siap dengan semangat perubahan menuju perbaikan? Setiap manusia diberi kelemahan dan kelebihan, yang tujuannya memang untuk saling melengkapi agar terjalin ukhuwah satu sama lain. Dan tak dapat dipungkiri kalau hal di atas tadi bisa terjadi, dan kekecewaan terhadap jamaah merupakan sebuah keniscayaan. Namun, akankah kita semua ingin hal itu terjadi? Tentu saja tidak, saat dimana kita tahu hal-hal yang menimbulkan mudhorot itu dapat diminimalisir tentu saja pasti akan kita lakukan.
Pada halaman 81 buku ini dikatakan ”semangat pemuda harus dipelihara dan diarahkan serta selalu dikontrol. Agar tidak timbul tindakan yang membabi buta dan agar tidak menjerumuskan jamaah ke dalam suatu pertarungan tanpa perhitungan dengan musuh.” 

Dikatakan tadi, bukan hanya memelihara tapi juga mengarahkan dan selalu mengontrol semangat para pemuda. Nah, siapakah yang dapat melakukannya? Tentu saja orang-orang yang mempunyai kebijaksanaan lebih yang dapat mengarahkan semangat para pemuda tanpa menyesatkannya. Jika pemuda mempunyai idealisme maka para pendahulu-pendahulu yang telah mempunyai banyak pengalaman itu mempunyai segudang kebijaksanaan. Bukankah hal itu yang diharapkan dari adanya sosok qiyadah dan jundiyah? Dalam ini yang dimaksud bukan saja qiyadah sebagai panglima angkatan tertinggi ataupun ketua organisasi tapi juga kita sebagai qiyadah terhadap diri sendiri dan orang lain didekat kita. Bukankah sudah sepantasnya seorang muslim itu mengingatkan saudaranya, dalam Al-Qur’an surat At-Taubah;71 :

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Subhanallah, sungguh agama Islam itu sangat menyeluruh dan andai saja (semoga) setiap orang memahami Islam secara menyeluruh maka tidak ada lagi orang-orang yang kecewa terhadap jamaah atau pun mimpi-mimpi yang tidak dapat diwujudkan. Dan Allah adalah sebaik-baik penolong....                                                                                                            
Share: