Selasa, Oktober 14, 2014

Rabithah Untukmu....

Sayang itu terkadang terlalu malu diungkapkan pada objek subjek utama,
tapi dia “sumringah” diajukan pada objek-objek subjek-subjek pendamping.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu untuk diucapkan.
Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.
(penghujung Muharram 1433H)

Tulisan ini tentang ringkasan dari Buku “Syarah Do’a Rabithah” oleh Muhammad Lili Nur Aulia. Saya tulis sudah beberapa tahun yang lalu dan akhirnya menemukan buku ini kembali. Sayang sekali jika tidak  Saya tuliskan lagi disini.

Share:

Rabu, Juli 02, 2014

Kamis, Mei 15, 2014

TANPA RUH

KOSONG - Cobalah kamu tidak membaca Al Qur'an selama satu hari atau sepekan atau bahkan sebulan. Boro-boro sampai sebulan sehari saja sama sekali tidak membaca pasti ada yang hilang dalam dirimu. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak sholat?


Entah apa yang sebenarnya yang terjadi dalam hidupku beberapa waktu ini. Aku kehilangan spiritku. Kejenuhan yang sangat melihat keadaan yang tak kunjung berubah. Mengalami rutinitas yang sama, orang-orang yang sama, dengan koreksi yang sama. Mengapa kau tak kunjung berubah?

Aku merasakan lelah untuk mengingatkan, lama sekali aku menekan tombol "mute" pada sikap bawelku. Aku ingin melihat kepedulian dari orang lain, bukan hanya aku. 
Aku ingin melihat apa yang terjadi bila aku tidak peduli. 
Apa yang terjadi ketika tidak ada gerakan.

Miris - nila setitik rusak susu sebelanga itulah yang terjadi. Begitulah umumnya orang yang seharusnya "tidak boleh salah". Menjadi teladan adalah hukum mutlak orang yang dituakan. Aku tidak menolak anggapan itu. Dan itu hal yang wajar.  
Bukti bahwa lingkungan akan mempengaruhi sosok dan sosok itu akan mempengaruhi lingkungan juga benar adanya. 
Sebenarnya, aku berharap muncul sosok baru yang dengannya menghidupkan kembali cahaya yang hilang. 
Gayung tak bersambut, memang takdir tidak bisa dipilih. Ketika kita menghendaki perubahan dari lingkungan sekitar kita, mutlak harus melalui perubahan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Selayaknya, aku yang harus evaluasi diri untuk siapa amal ini... 

Berharap pada hasil yang terbaik, yang paling ideal, yang paling sempurna membuatku putus asa dan menarik diri dari lingkungan-kecewa. 
Tak mau berbagi adalah hal yang menyedihkan, aku sakit semakin akut. Bukanlah sakit fisik yang membuatku nelangsa kehilangan RUH-lah yang membuat hidup menjadi nestapa.

Aku baca lagi firmanNya :

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(Q.S. Al Kahfi 103-104) 

Haluan orientasi ini harus kembali pada jalannya, bisikku pada diriku sendiri. Nilai perbuatan kita bukan dinilai dari hasil yang diberikan oleh orang lain melalui tangan kita, tapi bagaimana melalui tangan-tangan kita inilah akan membuahkan hasil sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang.

Terus menanam, merawat, sehingga suatu saat nanti buahnya terasa nikmat ketika dimakan oleh orang lain. Begitulah arti dari nafi'un li ghoirihi paling bermanfaat bagi orang banyak. Itulah sebaik-baik manusia.

Ruh itu akan kembali dengan sendirinya ketika kita menambah rasa sayang kita pada Allah SWT dan menyayangi orang lain, umat ini melebihi diri kita sendiri.

kalo tidak bermanfaat mengapa jua kita masih melakukannya? kalo tidak di dunia insyaAllah di akhirat. pasti.


Sumber gambar : www.langitnilai.com
Share:

Rabu, Mei 07, 2014

Himmatuhusna



Sudah lama sekali sekitar tahun 2011 lalu, aku dipertemukan kembali oleh salah seorang temanku di Jama’ah Shalahuddin. Sebuah perbincangan singkat di social media, kami saling berbagi kabar dan aktivitas saat itu. Saat itu dia sudah menikah dan terus berdakwah. Sosoknya yang aku ingat saat kami berjibaku dulu adalah dia selalu membawa buku kemana-mana. Di buku itu juga dia tuliskan
 “APAPUN YANG TERJADI TETAP TULISKAN!!!” 
 “WALAUPUN KAMU LELAH TETAPLAH MENULIS” 
kiranya begitu kalimat motivasi yang tertulis dengan huruf KAPITAL dan berulang-ulang. Pertemanan kami memang singkat, karena semangatnya menuntut ilmu dinniyah membuat kami harus berpisah sementara waktu. Kalian tau apa komentar dia saat kami berjumpa lagi dalam percakapan singkat itu...

“Kalau avis, nama sebutan yang cocok buatmu itu himmatuhusna”
“apa itu artinya?”
“semangat yang baik, avis kan orangnya selalu semangat!!!”
“hehehe...”

Percakapan itu selalu ku ingat dan akhirnya kutuliskan kembali disini, dan nama itu aku labelkan di nama drive, flashdisk, email dsb....
Namun, entah mengapa saat ini aku merasa malu. Malu karena sepertinya aku tak semangat seperti dulu. Terlalu banyak pertimbangan untuk beramal. Merasa gagal dan putus asa pada semua yang pernah dilakukan.... Akhirnya kecewa dan menarik diri. Astaughfirullah...

Betapa mudah Allah itu membolak balikan hati. Makanya:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ».
“Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [10/181] as-Syamilah)
Sesuatu itu perlu dikembalikan lagi pada “ghoyah”nya... Allah ghoyatuna.... Ringan diucapkan tapi berat dalam amal. Kalau saat ini aku menyerah, kenapa aku menyerah? Apa setelah menyerah iman itu bertambah? Setiap tindakan dan alasan perlu kita pertanyakan kembali “apakah Allah ridho dengan apa yang kita kerjakan?”

“berlelah-lelahlah sampai lelah itu lelah mengikutimu”
 karena akhir perjuangan ini akan selesai ketika KAKI TELAH MENAPAK KE SURGANYA.

Merbabu 2013 _ dan menapak kaki dengan pasti... (izzis)

Share:

Minggu, Februari 09, 2014

LAWU

7-8 Februari 2014 - Perjalanan pendakianku yang pertama di tahun 2014 ini. Pendakianku yang pertama kali pula setelah kecelakaan tahun lalu. Ternyata tubuhku yang lemah menjadi semakin tak berdaya. Ditambah menfosir diri di awal, berakibat fatal di akhir. Alhamdulillah masih bisa melihat lagi matahari pagi.

Terimakasih pada teman-teman yang sabar menungguku...
Terimakasih pada teman-teman yang menyemangatiku...
Terimakasih pada seseorang yang menguatkanku dg genggamannya sampai akhir...
Terimakasih Allah telah menghadirkan mereka...
Terimakasih Allah....



Puncak Lawu bersama Keluarga AMAN
avis-pipit-erna-nining  yg sll semangat

Manajemen Etos yang sll ceria^^

ALL Etos Jogja yang ISTIMEWA :)

Share:

Jumat, Januari 31, 2014

27 Januari 2014



Sore ini aku menemani binaanku untuk ta’aruf. Sebenarnya hal seperti ini bukan kali pertama bagiku. Namun, sepertinya Allah ingin mengingatkanku atas apa yang seharusnya aku persiapkan untuk memenuhi separuh dien ini. 

MasyaAllah... betapa fakirnya aku, ketika merasa cukup atas diri sendiri. Aku sadar 2 pekan ini aku futur, dan itu aku biarkan begitu saja. Aku merasa cukup dengan ibadah seadanya asal tidak melakukan maksiat. Tidak mencintai sunnah dan kurang menghindari yang mubah. Astaughfirullah....
Betapa lemahnya aku, kurang bisa menjaga diri. Melakukan tarbiyah Dzatiyah dengan istiqomah.

Kalimat yang terucap dari lisan murobbi sang Ikhwan "apa persiapan khusus yang telah anti persiapkan?" tadi seperti mengingatkanku akan JANJI pada diri sendiri yang dulu pernah aku tancapkan dalam hati. Aku akan menggenapkan separoh dien, sudah sungguh-sungguhkah aku mempersiapkannya?
Dan lagi ketika aku merasa cukup dengan diriku....

Ada tulisan menarik yang membuatku sadar:

Seorang ibu yang sering bertanya pada anak perempuannya mengenai apa bagian tubuh yang terpenting bagi manusia. Dari tahun ke tahun, anak perempuannya itu terus memberika jawaban yang ia kira benar.
Di usianya yang lebih muda, anak itu mengira, bunyi atau suara itu sangat penting bagi manusia. Karena itu, ia menjawab “Telinga saya, Bu”.
Ibunya berkata, “Bukan. Banyak orang yang tuli. Coba pikirkan terus Ibu akan bertanya lagi di suatu saat nanti”.

Beberapa tahun berlalu, dan Sang Ibu kembali menanyakan hal itu lagi. Kali ini anak perempuannya merenung, mencoba memberikan jawaban yang benar. Lalu berkata kepada Ibunya, “Ibu, penglihatan itu sangat penting bagi siapa saja. Karena itu bagian tubuh yang paling penting untuk semua orang adalah mata.

Ibunya hanya memandang sang anak dan berkata, “Kamu cepat belajar. Tapi jawaban ini tidak tepat karena banyak orang yang buta”.
Sang anak kembali terdiam. Dari tahun ke tahun, ia terus menambah pengetahuan. Selama itu, Sang ibu bertanya beberapa kali dan jawabannya adalah selalu, “Bukan. Tapi kamu jadi pintar dari tahun ke tahun, Nak.”
Suatu hari kakek anak perempuan itu meninggal. Semua orang menangis. Bahkan ayahnya juga menangis. Anak itu ingat persis hal ini karena ini kali keduanya melihat sang ayah menangis.

Ketika tiba giliran mereka untuk memberi penghormatan terakhir kepada kakek, ibunya kembali bertanya pada anak perempuannya itu, “Apakah kamu sudah tahu, bagian apa yang paling penting bagi tubuh kita?”
Sang anak kaget, mengapa ibunya bertanya tentang hal itu pada situasi seperti ini. Selama ini si anak perempuan hanya mengira, pertanyaan itu hanya permainan tebak-tebakan antara ibu dan anak. Sang ibu tahu kalau anaknya bingung dan berkata, “Pertanyaan ini sangat penting. Ini menunjukkan, kamu benar-benar menghargai hidup ini. Untuk setiap bagian tubuh yang kamu bilang ke saya di waktu lalu, saya selalu bilang, kamu salah dan saya sudah menjelaskan contohnya mengapa. Tapi hari ini kamu harus belajar satu pelajaran penting ini.”

Sang ibu memandangi anaknya dengan pandangan yang hanya bisa diberikan seorang Ibu. Air mata menggenang di matanya. Si Ibu lalu berkata, “Anakku sayang, bagian tubuh yang paling penting itu adalah bahumu.” “Karena bahu menyangga kepala saya,” tanya si anak penasaran.

“Bukan. Tapi karena dapat menyangga kepada seorang teman atau orang yang kita sayangi, ketika mereka menangis. Semua orang perlu bahu untuk menyangganya dalam hidup ini. Saya hanya berharap , kamu punya kecukupan cinta dan teman sehingga kamu selalu punya tempat bersandar untuk menangis di saat kamu memerlukannya.”

Dari situ dan sejak itu, sang anak tahu, bagian yang paling penting dari tubuh bukan yang memikirkan diri sendiri. Yang paling penting adalah bersimpatik terhadap penderitaan orang lain.

Orang-orang akan lupa dengan apa yang kita katakan
Orang-orang akan lupa dengan apa yang kita kerjakan
Tapi orang tak akan pernah lupa perasaan yang dirasakannya akibat perlakuan kita kepadanya

Sahabat baik itu seperti bintang-bintang di langit
Kita tidak selalu melihat mereka, tapi kita tahu, bahwa mereka itu ada.


Notes.

Bila saya sebagai ibu anak tersebut. Jawaban dari pertanyaan “bagian apa yang terpenting sesuai filosofi di atas yaitu jari jemari” tanpa jari kita tidak bisa menyampaikan empati atau simpati dengan bahasa tubuh, tanpa jari kita tidak bergandengan, tanpa jari kita tidak bisa bersalaman dengan apik, tanpa jari kita akan sulit memegang sesuatu dengan kuat, banyak hal kecil yang bisa kita lakukan dengan jari-jari kita dan hal tersebut bisa menguatkan orang lain bukan hanya menjadi sandaran. Itulah mengapa saya menganggap bagian ini lebih penting dari bahu.  Sekali ini hanya pendapat, Sahabat bisa juga berpendapat lain, just share! J
Share:

Rabu, November 13, 2013

#Uups! (part 1)

“Saya tidak tahu ini berkah atau musibah, saya hanya bisa berhuznudzon pada Allah SWT..” 
(Salim A.fillah – dalam dekapan Ukhuwah)

Kutipan itu diambil dari kisah seorang pemuda dan ayahnya yang dalam perjalanan hidupnya selalu berhusnudzon pada Allah sebelum berkomentar pada kejadian yang menimpa mereka. Pada akhirnya mereka hidup bahagia tanpa peduli pada komentar orang-orang pada setiap kejadian yang mereka alami.
Lalu mungkinkah kutipan kalimat tadi berlaku juga pada orang yang sedang jatuh cinta?
Hmmm, kalo sudah bicara cinta, adrenalin langsung naik, mata merem melek, membetulkan posisi duduk dan menyiapkan diri untuk membaca. Segitu menariknyakah bicara soal cinta?
Hahaha, jika penulis tidak tertarik mana mungkin ada tulisan ini? (uups!) Cinta itu fitroh. Agama Islam adalah agama cinta kasih yang mengajarkan kasih sayang kepada semua makhluq Allah SWT. Bahkan kepada hewan sekalipun, Islam telah memerintahkan kita berbagi kasih. Sebab syariah Islam itu hakikatnya adalah rahmat (kasih sayang) untuk alam semesta. Dalam firmannya Allah SWT menyebutkan :

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk rahmat bagi semesta alam. 
(QS Al-Anbiya': 107)

Dan seorang anak manusia bila mencintai lawan jenisnya, itupun bagian dari cinta yang merupakan karunia Allah SWT dan telah diberikan-Nya kepada kita untuk disyukuri. Sebab memang demikianlah Allah SWT ciptakan manusia dengan dilengkapi rasa cinta.


Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. 
(QS Ali Imran: 14)

Tapi....
Rasa cinta itu  tidak salah, yang salah jika menyuburkan cinta dengan perbuatan haram. Rasa cinta itu fitrah. Fitrah itu adalah sunnatullah setiap kehidupan. Rasa cinta itu lelah. Yang membuat insan hanyut dalam fikiran dan perasaan. Seperti Rasulullah yang mencintai umatnya, hingga dalam sakaratul maut pun umatnya disebut sampai tiga kali. Rasa cinta itu indah. Yang akan lebih indah dengan ikatan pernikahan.

Hmmmm, lalu bagaimana ya?

Jika ada laki-laki yang  sok perhatian, sok jadi kakak karena ga punya adek, sok jadi saudara karena anak tunggal, sok jadi pahlawan karena penggemar superhero, sok amanah karena semua jadi dialibikan “ini persoalan amanah, pekerjaan dsb”, akhirnya ga masalah melanggar jam malam “karena ini amanah! Penting! Ini soal tugas, PKM, dari tadi ga sempet mbahas karena kuliah, praktikum, laporan dsb...” upsss! Hati-hati jika semua sudah dijadikan alasan, bahkan diri sendiri menjadi “PEMBENARAN” bukan “KEBENARAN”.
Jadi perempuan harus hati-hati jangan keGR-an, bisa jadi memang seperti itu karakternya, dia berperilaku seperti itu pada setiap perempuan, adek kelasnya, temannya, teman dari temannya dsb. Selisik baik-baik, timbang-timbanglah dari dirimu sendiri. Karena dirimulah yang mengizinkan hadirnya, bukan orang lain. Dirimulah yang mengizinkan kenikmatan awal berlanjut kenikmatan haram karena bukan pada tempatnya. Dirimulah yang mengizinkan simpati menjadi empati, empati yang mempengaruhi hati, hingga nafsu pun seakan menjadi Cinta! Wah setan dah seneng bgt tuh, memperindah hal hal yang sebenarnya sama sekali tidak indah.

Berikunya saya ganti subjek perempuan dengan kata akhwat. Mengapa? Definisi akhwat disini adalah seorang perempuan yang dilegitimasi rajin belajar agama dan memiliki lingkungan yang Islami.  Subjek ini menjadi lebih menarik karena setiap orang menginginkan pasangan yang se-irama, se-paham, sehingga aktivitas dalam membangun agama/dakwah ini mudah terkena penyakit VMJ, upss! Hati-hati jika niat karena Allah sudah berganti karena si do’i, datang menjenguk teman karena ada dia, syuro karena ada dia, diskusi karena ada dia, TPA karena ada dia. Apalagi kalo dia ga datang kamunya kecewa. Wah, wah, harus terapi hati nih.

Hmmmm,............................tenangkan diri, ambil nafas dalam-dalam........ keluarkan pelan-pelan...................hembuskan......

Lalu mana yang harus lebih menjaga? Akhwat ? si perempuan tadi? Ato ikhwan si cowok jagoan?
Sebagai seorang perempuan, semoga saya juga termasuk orang yang menjaga (mohon diluruskan ketika saya khilaf ). Menekankan bahwa akhwatnya yang harus kuat.
Jika seorang perempuan lemah dengan hatinya, dengan komitmennya, dengan keputusannya, dengan penjagaannya, dengan imannya. Akan muncul celah-celah yang menjadi rapuh, dan mudah sekali menjadi larut selanjutnya  “modus” dan “alibi” yang menjadi bukti.

Sementara ikhwan, juga sudah mampu, menikah saja tidak masalah, silakan, itu lebih baik bagimu, jika tidak mampu silakan berpuasa dan tutup pintu rapat-rapat. Sudah ada haditsnya toh?
Namun, banyak kejadian yang membuat saya menghela nafas. Seringkali muncul berbagai reaksi yang bermacam-macam menghadapi kasus VMJ ini.
Beberapa kasus yang terjadi membuat saya mengkategorikan tipe perempuan dalam menghadapi “cinta” menjadi beberapa kriteria :

1.      Akhwat Ngeyel

Sudah tahu harusnya gimana, sudah kembali diluruskan baiknya seperti apa. Tetap aja suka bermain api, tetep ngumpul barenglah, alibinya banyak mulai dari ngerjain tugas, PKM, rapat, survei, hanya dia yang bisa dimintai tolong dsb. Busyeet dah! Kami hanya bisa melihat apa yang dzohir , yang nampak, urusan hati urusanmu sama Allah, tapi jika yang kami lihat adalah kamu menikmatinya, apa masih mau mengelak “saya gak suka, kami hanya berteman biasa”. Uppsss! Hati-hati loh!

2.      Akhwat Mlipir
Namanya juga mlipir pasti itu dipinggir, sewaktu-waktu ga apa-apa melanggar aturan, toh juga ga gitu-gitu banget. Ya kayak kita berkendara, baru kapok kalo lihat orang mlipir terus ketabrak. Uupps!
Maksudnya adalah dia berada dipinggiran antara dua alam. Ada temennya begini begitu didiemin aja, males ga urus, terkadang juga ngomporin, nantangin, manasin, nyomblangin. Tapi akhirnya juga lepas tangan dari hal itu, itu kan pilihanmu! Hidupmu! Jadi ya terserah lu. #apatis deh sebenarnya.
Artinya dia juga apatis sama yang namanya cinta, #apasih! G bs dimakan,hoho.  Hanya Allah yang bisa membolak balikkan hati dan memberi hidayah.

3. Akhwat Anggun

Akhwat yang tetap manis, menawan, adem ayem, nurut, tetap komunikatif, rajin kajian, amal yaumiahnya juga baik, amanahnya beres. Tapi ternyata dia diam-diam memiliki laki-laki idaman ato main hati dengan lawan jenis,uUPPsS! Ko bisa? Namanya juga manusia, kalo ga punya nafsu namanya malaikat! Cuma satu hal yang dia ingkari adalah bahwa Allah mengetahui segala kejadian yang ada di dunia, termasuk juga isi hati, termasuk juga kejadian yang sembunyi-sembunyi, kita juga tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa Allah sebaik-baik saksi. Na’udzubillahi min dzalik.

4. Akhwat Judes

Akhwat tipe seperti ini biasanya malas sama partner yang lelet, apalagi ikhwan, ikhwan kok lembreto. Jadi dia gak mau ambil pusing dengan permasalahan hati, yang penting kerjaan beres. Lebih dominan, nakutin kalo lagi marah, dan biasanya tegas kalo ada yang ketahuan VMJ, jadi banyak temen-temennya yg g bebas juga kalo mau curhat. Hanya bisa takluk pada orang-orang yang “lebih” daripada dia.

Ke empat tipe ini adalah tipe ekstrim extra lebay, dan mungkin hanya beberapa orang yang mutlak memiliki tipe seperti ini, tapi gak sedikit juga yang merupakan gabungan dari beberapa tipe ini.
Tipe ini berlaku juga untuk ikhwan, sama saja, hanya cara bereaksinya saja yang berbeda.

Adakah darimu yang mirip dengan tipe di atas?

Tulisan ini dibuat memang untuk memberi peringatan, dan kabar gembira. Jikalau ada yang tersungging eh tersinggung karena tulisan ini bersyukurlah bahwa artinya hatimu masih peka antara kebenaran dan kebatilan, kalo gak salah kenapa hrs tersinggung? Jikalau tidak memberi pengaruh apa-apa ya semoga bisa memberi pengaruh bagi yang lain dan membuat kita lebih dekat pada cintaNya.


Pada akhirnya saya mohon ampun pada Allah, karena saya juga manusia yang tidak lepas dari salah dan jauh dari sempurna, sama-sama mari kita mengobati hati agar selalu menumbuhkan iman dan cinta karenaNya. insyaAllah akan saya bahas di tulisan ke dua.

Have barokah day :)

Maraji’:
Al Qur’anulkariim
Fiqh Sunnah 2 -  Sayyid Sabiq
Dalam Dekapan Ukhuwah – Salim A.Fillah
Mencari hikmah yang tercecer di tengah kehidupan


Share: