Senin, Agustus 31, 2026

Debu Digital


Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menatap dasbor blog ini. Debu digital rasanya sudah menumpuk di sudut-sudut halamannya. Beberapa waktu lalu, sempat terlintas pikiran untuk membeli domain pribadi agar lebih semangat menulis dan profesional.


Tapi nanti kalau saya mati, siapa yang mau merawat dan meneruskannya? 

Ketika domain pribadi tidak diperpanjang, seluruh tulisan, pemikiran, dan jejak digital kita akan dihapus dari internet dalam sekejap. Semua lenyap begitu saja. Platform besar seperti Blogger atau Medium didukung oleh infrastruktur raksasa. Selama internet masih ada, tulisan-tulisan di sini akan tetap hidup selamanya tanpa membebani siapa pun dengan tagihan tahunan. Tugas saya tidak lagi dipusingkan oleh urusan teknis atau biaya hosting, melainkan kembali ke esensi paling mendasar: menulis dengan rajin.

Itulah mengapa saya memutuskan untuk kembali ke sini.


Di tengah hiruk pikuk per-AI-an dengan berbagai konten digital yang menarik mata. Video-video pendek yang bisa mendatangkan adsense dan algoritma yang mungkin berujung cuan dan endorsement. Ada hal-hal yang perlu kita seimbangkan. Video pendek adalah pemantik untuk diskusi lebih dalam. Tidak cukup menjelaskan pada anak "Bagaimana anak itu bisa membaca, atau bermain sepatu roda seperti itu" kita perlu arahkan bagaimana anak melihat proses sebelum dia menjadi sempurna. Oleh karena itu saya ingin lebih banyak membaca panjang, diskusi mendalam dan berpikir kritis. Melihat sosmed seperlunya, memilih membaca di Medium dan menikmati kehidupan nyata bersama keluarga.

Membangun kebiasaan membaca, berpikir dan meluangkan waktu untuk menulis setelah jeda yang lama tentu tidak mudah. Jemari mungkin terasa kaku, dan ide terkadang macet di kepala. Namun, konsistensi jauh lebih penting daripada kesempurnaan. Menulis untuk meninggalkan jejak. Sebuah arsip pemikiran yang bisa dibaca oleh siapa saja, kapan saja, bahkan ketika saya sudah tidak lagi berada di depan laptop ini.

Bagi siapa saja yang kebetulan menemukan tulisan ini—baik pembaca lama yang masih tersisa, atau pembaca baru yang mampir lewat algoritma —selamat datang. Mari kita saling berbagi isi kepala.

------------------------------

Bekasi, September2026

Avisenna



Share:

Jumat, Februari 16, 2018

Ikhtiar menjadi keluarga Allah bag. 1


Barangsiapa mencari kemuliaan tanpa bersusah payah, berarti menyia-nyiakan usia untuk kemustahilan" (Risalah Ta'lim bagian pengorbanan)

Saya baca kalimat di atas berulang-ulang demi menyelami makna dan untuk memperkuat kosentrasi orang lain yang mendengarkan bacaan saya.

Tertohok.

Betapa banyak keinginan tanpa disertai usaha yang besar untuk mencapainya. Kerja keras mencapai cita-cita bukan serta merta muncul sebagai hadiah. Namun tidak hanya usaha dalam bentuk fisik lho ya..

Seorang penghafal Al-Qur'an juga memiliki kerja keras di bagiaj yang lain, yaitu hati dan pikiran. Fokus adalah anugerah, saya sendiri merasakan hal itu.

Berdo'a kepada Allah SWT agar diberi pikiran dan hati yang tenang. Bagaimana jadinya ketika kita menghafal hanya menggunakan aspek ingatan dan tidak menggunakan hati dan akal? Tentu kita tidak ingin bukan, menghafal tanpa memahami apa yang kita hafal? Disitulah saya belajar sabar.

Pertama sabar dulu dan ikhlas dengan waktu yang saya berikan dalam menghafal. Sering kali rasa was was timbul, bagaimana kalo begini bagaimana kalo begitu.. sering sekali perasaan itu muncul akhirnya seperti penggalan kutipan di atas: waktu akan habis dalam pikiran dan tidak sungguh-sungguh dalam berusaha dan umur kita (waktu) menjadi semacam sia-sia. Na'udzubillahi min dzalik..

Mari kuatkan diri, kumpulkan banyak alasan untuk menghafal dan mengulang hafalan kita lagi dan lagi...

#semangatsurga
#ikhtiarmenjadikeluargaAllah #H-89 Ramadhan #marhabanyaaramadhan
Share:

Selasa, Juni 27, 2017

maaf, telah membuatmu jatuh cinta



Sesungguhnya...
bukan cantik yang menjadikan dia cinta
Tapi cinta yang membuat dia cantik rupa

Sesungguhnya...
Bukan lupa yang menjadikan dia tak ada
Tapi tak ada rasa yang membuat dia lupa

Sesungguhnya...
Bukan sakit yang menjadikan dia alpa
Tapi hati hampa yang membuat ia merana

Sesungguhnya...
Bukan dunia yang membuat dia bahagia
Tapi bahagia karena memahami dunia yang fana

Sesungguhnya...
Bukan akhirat itu tak ada
Tapi karena belum ada rasa percaya

Sesungguhnya...
Bukankah Tuhan itu ada
tapi mengapa kita tak merasa ?

Sesungguhnya...
Apa karena kita telah jatuh cinta
Pada dunia?


Salam,

Dunia

#sajakmalam #syawal #menggalimakna  #melawanlupa #longlifelearning #hastag #apaaja #cinta #pujangga #roman #hidup #kehidupan
Share:

Kamis, Mei 11, 2017

Kesalahan dalam menyambut Ramadhan

Tak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan penuh berkah, bulan kemenangan, bulan berserekah, bulan penuh rahmat dan ampunan.dan juga bulannya AlQur'an. Ya, bulan suci Ramadhan akan segera datang.
Sekiranya saya sudah merasakan 14x bulan ramadhan semenjak saya baligh. Bila saya renungi belum seberapa yang saya lakukan untuk menyambut bulan ini. Sangat belum!
Oleh karena itu, izinkanlah saya untuk berbagi mengenai kesalahan-kesalahan yang tak boleh terulang saat menjelang ramadhan.
Beberapan kesalahan itu adalah sebagai berikut :
1) Terlambat start.
Seperti orang yang sedang berolahraga. Pastilah ada pemanasan terlebih dahulu agar badan tidak kaget dan olahraga pun optimal.
Jika para sahabat memulai lagi menyambut ramadhan itu di bulan syawal. (^O^)
Maka bisalah kita mencoba mengambil moment idul adha sebagai start, jika belum bisa ya di tahun baru hijriyah_ bulan Muharram sebagai moment "hijrah", jika belum bisa lagi di moment kelahiran Rasulullah, hmm.. belum bisa juga kita ambil tarhib Ramadhan saat Rajab atau saat moment isra' mi'raj, jikaa belum bisa juga maka kita HARUS menyiapkan saat ini 15 sya'ban adalah moment akhir kita start menyiapkan diri menyambut bulan ramadhan!!!
Maka mulai hari ini mari kita perbanyaklah ibadah sunnah, baca Al Qur'an lebih rajin, sedekah sedikit-sedikit tapi rutin, siapkan zakat di bulan ramadhan, dan juga puasa sunnah.
Pemanasan adalah kunci pertama keberhasilan kita. Jika belum panas dengan ibadah panas-panasilah diri kita dengan ilmu tentang keutamaan ramadhan itu sendiri.
2) Hijrah, mencari lingkungan
Sadar atau tidak lingkungan sangat mempengaruhi diri kita. Rasulullah pernah bersabda bahwa pribadi kita dapat dilihat dengan siapa kita berteman. Carilah obat hati dengan mencari kawan yang sholih/sholihah. Paling tidak dia mau mengingatkan kamu untuk ibadah, itu sudah cukup untuk saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
3) Olah raga dan menjaga makanan
Tetap bugar walaupun puasa. Saya terinspirasi teman saya yang dalam kesibukannya tetap menyempatkan diri lari pagi. Kebiasaannya masih saya coba terapkan (walaupun belum tiap hari =p) hehe.. gakpapalah ya...
Makanan selalu jaga yang halal dan pastikan halal. Perbanyak makan buah dan minum air putih. (Ini masih jd PR berat buat saya)
4) Sedekah
Banyak berbuat baik adalah sedekah, senyum adalah sedekah, membuat bahagia orang lain adalah sedekah. Sekiranya kita lagi bokek jangan tutup diri dengan tidak berbuat apa-apa.
Semoga dengan sedekah menjadi jalan kita untuk bersyukur pada Allah SWT.
5) berdoa guys
Semoga kita disampaikan ya di Bulan Ramadhan ini.
Semoga bermanfaat, jangan mengulang kesalahan yang sama ya :-)


Share:

Jumat, Agustus 12, 2016

10 hari mencari sakura

Pacifico Yokohama

Alhamdulillah akhir bulan Juli lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi negeri bunga sakura. Judulnya memang mencari bunga sakura, tapi mungkin belum rezekinya karena sewaktu saya disana masih musim panas awalan jadi baru mau tumbuh dan berbunga. Hmm… walaupun begitu jepang bukan hanya sekedar sakura ko… Biarkan saya berbagi pengalaman pertama saya ke luar negeri… hehe..

1.       Packing dan lalalala…
Pastikan segala berkas sudah siap, termasuk tiket, visa, passport, identitas, sejumlah uang yang telah ditukar sesuai negara yang dituju, catatan alamat, nomor yang bisa dihubungi, kosa kata penting untuk komunikasi darurat, makanan ringan ketika dipesawat dan air secukupnya. Semua barang dipack dengan rapid an dipisah-pisahkan sesuai urgensi. Missal barang2 kecil dan makanan ringan saya masukan ke dalam tas depan. Laptop dan baju ganti + alat mandi (sekali pake)karena saya harus transit 17 jam di kuala lumpur (jadi sayang kalo gak mandi ;P) lalu sisanya masuk ke dalam koper kabin. Waktu itu saya sempet was-was barangkali tas punggung dan koper kabin saya ga boleh masuk dan harus beli bagasi.. tapi alhamdulillah ternyata engga, banyakin do’a aja supaya selalu beruntung.

Oia karena jelas gak boleh bawa air waktu check baggage, jadi saya botulin kecil1 sekitar kurang dari 100 ml berupa air putih, minyak zaitun, minyak but2, dan sari kurma.. yah.. biasanya itu dibutuhkan saat saya perjalanan jauh… terus mengenai obeng, gunting lipet itu juga untung-untungan di Indonesia dan jepang gak ke sita, pasti transit di Malaysia malah kesita… T-T

Share:

Kamis, Agustus 11, 2016

Bagaimana mengajarkan anak mencintai al Qur’an?


Sebelum pertanyaan itu dapat dijawab, selayaknya kita mengajukan pertanyaan serupa pada diri kita (sebagai orangtua/guru/kakak): Apakah kita sudah mencintai al Qur’an?

 “The one who lack the thing can not give it to others”
Seseorang yang tidak memiliki motivasi/ghiroh/cinta pada Al Qur’an maka ia tidak akan mampu memberi pada orang lain. Bagaimana seseorang dapat mengajarkan cinta jika ia tidak mencintai, tidak tahu bagaimana cara mencintai, dan bagaimana sebaiknya menyampaikan cinta? lebih-lebih cinta ini bukan sembarang cinta tapi bukti cinta kepada Allah melalu kitab-Nya.

Orang yang hatinya terputus hubungan dengan Allah SWT,
bagaimana dia akan mampu menarik makhluk kepadaNya?
Peniaga yang tidak memiliki modal, bagaimana dia akan meraih keuntungan?
Seorang mu’allim (guru) yang tidak mengetahui silabusnya,
 bagaimana dia boleh mengajar kepada orang lain?
Dan orang yang tidak mampu (lemah) memimpin dirinya sendiri,
 bagaimana dia akan mampu untuk memimpin orang lain?
(Sumber: Makalah Imam Hasan Al-Banna)

Share:

Rabu, Juli 13, 2016

Satu hari yang bahagia


Ketika Sahabat membaca judul ini, kira-kira hari apa ya yang dimaksud? Kebanyakan (mungkin) akan teringat tentang momen-momen yang membahagiakan seperti kelahiran, pernikahan, ulang tahun, wisudaan, atau bisa juga saat-saat bersama  keluarga, teman dekat, sahabat, banyaklah pastinya.

Lalu saya bertanya pada diri saya sendiri kira-kira satu hari yang bahagia-ku nanti apa ya?
Hmmm, diantara momen bahagia yang saya sebut di atas memang sih hanya satu yang belum saya rasakan yaitu momen pernikahan. Tapi, apa benar itu momen yang benar-benar saya rindukan? Kalo saya kok bukan pada  momen-nya ya, siapa si yang ga bahagia kalo nikah? Ya seneng lah mah, nikahkah.. dikasih banyak kado, makan-makan, pakai baju bagus  (kata ponakan temanku ketika ditanya tentang “nikah itu apa” =p)

Entah mengapa bagi saya kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika saya telah mencapai sesuatu...

"if I can reach something that I can’t imagine before"


Satu moment yang melekat adalah ketika saya terharu bahagia ketika mengantarkan adek-adek ujian tahsih Qiroaty di semarang tahun 2014, rasanya waktu itu saya dapat menangis bahagia. Mengingat perjuangan 2 tahun lebih untuk mendidik mereka menjadi seorang guru, tentu dengan banyak pihak yang mendukung yang datang silih bergantian, kekuatan hati untuk memantapkan diri tetap bertahan, kalo saya gak bertahan bagaimana dengan adek2?huhu... (pernah hampir mutung karena pada ga semangat). Walaupun begitu kalianlah yang luar biasa mampu menjalani semua proses ini.. dan tak terasa sudah hampir setahun kalian mengajar, yang dulunya masih kaku, grogi gitu, sekarang sudah bisa mengajar membahana sampai ujung dunia... (lebay.com) 

Ya tapi tentunya, kita perlu me-refresh terus ilmu-ilmu kita, keep istiqomah ya guys! 

Selanjutnya adalah ketika dapat men-centang satu per satu target atau impian kita. Baik jangka pendek maupun jangka panjang. Contoh terdekat adalah ramadhan tahun ini. Beberapa teman dan saya membuat bersama target ramadhan mulai dari khatam tilawah, muroja'ah, tarawih, sholat sunnah, i'tikaf dan seterusnya. Hikmahnya walaupun tak seluruhnya mencapai target tapi hikmah memang seberapapun kemampuan kita untuk mencapai kita harus berimpian yang tinggi langit, hasilnya paling tidak akan mendapatkan awan tapi kalau berimpian hanya setinggi gedung bisa jadi hanya dapat atap rumah. hehe..

Yah.. apapun itu  ada banyak hal yang tidak bisa kita lihat dengan mata tapi bisa kita rasakan kehadirannya. Dan kebahagiaan apa pun itu tidak akan bernilai ketika tidak bisa berbagi sebagai sarana syukur kita esspecially bersama orang-orang yang mendo'akan kita :)

kita buat bahagia menjadi sederhana ^^
Share:

Selasa, Juni 21, 2016

Setelah 3 bulan

Sudah lebih dari setengah tahun ku tinggalkan blog ini, so many things that I want to share it for you guys... 
Belum genap sebulan sekembalinya aku nge-camp di Bekasi dari awal tahun kemarin. Dan dengan perenungan yang mendalam tapi dengan pengambilan keputusan yang singkat, pada akhir maret aku meyakinkan diriku untuk berangkat ke tempat ini... 





Tidak ada yang kebetulan didunia ini bukan? sebelumnya seorang teman menceritakan padaku tentang betapa indahnya "Wadi Mubarok", bagaimana kultur disana, bagaimana orang-orang menjaga hafalannya, dan bagaimana orang-orang di sana menyambut tamu. Dalam hati ku berdo'a semoga sesuatu saat nanti aku bisa mengunjunginya langsung.

Dan qadarallah beberapa hari selepas cerita itu, ada broadcast dari sebuah grup tentang pelatihan guru untuk tahfidz anak usia dini disana. Awalnya hanya ku baca sekilas dan ku sebarkan ke grup lain siapa tahu banyak yang tertarik. Sampai sebuah pertanyaannya melayang pada diriku :
kamu gak pengen ikut itu? sekarang semakin banyak orang yang belajar Al Qur'an tapi masih sedikit yang mau fokus untuk mengembangkan tahfidz untuk anak-anak, apalagi di usia dini, sebaiknya kamu mulai menentukan diri "ingin memiliki ciri khas seperti apa?" (glek! pertanyaan itu cukup menusukku tajam).

Hal yang sama memang bergelayutan dalam benakku, dengan umur yang terus meningkat ini, aku harus bisa lebih fokus, fokus dalam belajar dan mengembangkan diri. Teringat nasihat ustadz Syatori dalam kajian tahun baru lalu, beliau mengingatkan bahwa orang yang husnul khotimah adalah orang yang meninggal pada saat amalnya mencapai puncaknya, ia mencapai amal terbaiknya yang ia persembahkan untuk Allah untuk akhiratnya...

Hhmm... masih jauh sekali rasanya....

Selama ku mengikuti masa Pendidikan Guru Tahfidz Anak Usia Dini (PG - TAUD) di Wadi Mubarok banyak hal yang terjadi, banyak ilmu yang terbagi, banyak do'a yang di aamiin-i, banyak kawan yang dirindui, banyak kenangan yang jadi obat hati, dan tentunya semoga menjadi bekal perbaikan diri.

Salah satu moment yang paling berkesan bagiku adalah saat Ustadz Zein dari Pesantren Hidayatullah menjadi namaku sebagai contoh. Beliau selain menjadi Ustadz, beliau juga lulusan psikologi dan praktisi yang langsung mengajar ke anak-anak (semoga beliau selalu dalam lindungan Allah SWT). Beliau melabelkan pada diriku sebagai dokter jiwa, dan membacakan tentang proklamasi diriku seperti ini (hasil karangan beliau - semoga menjadi do'a) :
P r o k l a m a s i
Dengan ini saya yang bernama Avisenna Pramitasari berjanji akan:
  1. Selalu gembira dan menggembirakan orang lain
  2. Selalu terikat hatinya untuk sholat dhuha dan sholat malam (menjadi qurota'ayun bagi orang lain dan mampu menjadi obat bagi hati-hati yang gersang.
  3. Menyatu dengan pujaan hati yang akan membimbing ke SurgaNya kelak 
 Hal ini akan dilakukan dengan s e k s a m a dan dalam tempo sesingkat-singkat.
                                                                                                  Tertanggal di Bogor 22 Mei 2016
Dan di aamiinkan oleh teman-teman yang lain.
Kita tidak tahu dari lisan mana do'a itu akan dikabulkan, yang jelas jangan pernah berhenti berdo'a dan berharap  Allah akan mengabulkan suatu saat nanti.

mengapa namaku yang menjadi contoh bukan orang lain? aku hanya bisa berhusnudzon, semoga itu menjadi penuntun untuk takdir Allah yang lebih baik.

Lalu kemanakah setelah ini aku akan berlabuh? atau kendaraan yang manakah yang akan menuntunku menggapai cita? pekerjaan manakah yang benar-benar aku jadikan profesi sekaligus panggilan hati?

وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat".

Tafsir Jalalayn : 
Dan berdoalah) di kala kamu turun dari bahtera, ('Ya Rabbku! Tempatkanlah aku pada tempat) kalau dibaca Munzalan berarti menjadi Mashdar dan Isim Makan/tempat sekaligus, apabila dibaca Manzilan berarti tempat berlabuh (yang diberkati) yakni tempat tersebut diberkati (dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat'") maksudnya Engkau adalah pemberi tempat yang paling baik kepada semua yang telah disebutkan tadi.



Share:

Minggu, Desember 13, 2015

Kubus Komunikasi

Namanya kubus, memiliki 6 sisi yang berbeda. Masing-masing memilki warna yang berbeda. Apabila dua orang memandangi kubus itu pada saat yang bersamaan, lalu orang ketiga bertanya “apa warna yang kau lihat?” Menurutmu apa yang akan mereka jawab? Ya, dua orang itu bisa jadi akan menjawab 2 warna yang berbeda. Si A menjawab merah sementara Si B akan menjawab Kuning. Karena mereka hanya melihat dari satu sisi. Keduanya tidak salah. Kemudian si C meminta keduanya untuk berganti tempat, dan bertanya sekali “sekarang warna apa yang kalian lihat?”

Guys, manusia itu kompleks banget ya, masalah kecil bisa menjadi besar, walau sekedar perbedaan pendapat.  Kalo saja Si C tidak meminta bergantian tempat, tentu saja Si A dan Si B keluar dari ruangan itu masih bersikeras dengan jawabannya masing-masing, merasa benar dan tidak mau kalah. Namun, dengan memandang dari sisi yang berbeda kita akan mengerti mengapa orang memberikan jawaban yang berbeda. Setiap orang memberi jawaban atas apa yang mereka lihat.

Jawaban juga akan berbeda ketika kita berada di posisi si C (ditengah-tengah) kita akan melihat kubus itu berwarna-warni yaitu kuning, merah dan hijau. Si C memandang dari posisi yang lebih tinggi sehingga ia bisa melihat lebih banyak. Si C memahami mengapa Si A dan Si B berlainan pendapat dan memaknai perbedaan itu sebagai dinamika yang positif, dan si C pun menyelesaikannya dengan tepat. Itulah kebijaksanaan. ^&^

Dalam dunia nyata, bukankah banyak sekali komunikasi yang terjadi? Baik dengan rekan sejawat, dengan adik yang lebih muda, atau para senior yang memiliki segudang pengalaman. Lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana cara kita berkomunikasi?
Saya? Hmmm... justru saya menulis tulisan ini karena saya sedang ingin mengobati trauma saya terhadap  cara komunikasi saya (=P). Saya masih berada di posisi yang tidak tetap, bisa menjadi Si A, Si B ataupun Si C. Kadang pertengkaran kecil bisa menjadi bumbu tersendiri untuk “ukhuwah” tapi bukan bumbu yang sedap jika terlalu banyak. Hehe...

Saya banyak merenungi hal itu dan saya juga meminta bantuan teman-teman yang sering berinteraksi dengan saya. Lalu saya membuat kuisioner seperti ini.

Assalamu'alaykum. Halo teman2, saya hari ini sedang merancang agenda untuk diri saya, untuk itu perlu data baseline dari kalian yang pernah berinteraksi denganku, dari skala 1-5, 1 paling rendah dan 5 paling tinggi, tolong jawab jujur karena tidak akan memengaruhi hubungan kita hehe, menurut kalian: seberapa cocoknya niat baik dengan cara menyampaikan yg baik dari seorang Avisenna?  Thx feedbacknya..
Kalian tahu bagaimana tanggapannya?
^^ ada yang langsung menjawab sesuai yang saya harapkan, tapi beberapa tak jarang juga tidak mengerti dengan maksud saya (V**). Artinya ini memang cara menyampaikan juga belum standar normal, karena gak semua paham (haha).
Lalu ada adek binaan saya dulu yang membantu menerjemahkan pertanyaan itu dengan lebih mudah, yaitu:
*Cara Mba Avis dlm menyampaikan niat baik* udah baik atau belom?
1 paling rendah,5 paling baikCoblos no 1📌Coblos no 2📌Coblos no 3📌Coblos no 4📌Coblos no 5📌
Hasilnya,
 Orang yang lebih tua menjawab 3,5 dan kurang dari itu; itu orang yang lebih muda dibagi dua kategori  1) adek-adek yang intens berinteraksi menjawab 3 dan kurang dari itu, 2) sudah data lama (dulu2 banget) 4 ke atas; sementara teman-teman sepantaran rata-rata menjawab 3 dan 4. =D
Lalu saya menyimpulkan, ternyata komunikasi saya ada yang belum “pas” terutama untuk komunikasi ke yang lebih muda dan tua. Saya juga menyadari bahwa saya selalu menganggap “seseorang” itu teman. Jadi kadang sok akrab, bisa jadi yang lebih tua merasa kurang berkenan karena “rasa hormat” kok kurang ya. Sedangkan yang muda merasa “ini udah tua kok seperti anak kecil” haha.. 
Saya excited dengan survey random ini. Niat baiknya biar lebih akrab, tapi ternyata masing-masing orang memiliki pandangan yang berbeda. Saya terlalu memaksakan setiap orang dapat menerima saya apa adanya, jadi dimanapun bersama siapapun “inilah saya, apa adanya”.

Menjadi apa adanya ini bisa menjadi senjata bermata dua. Kalo baik dibilang polos, kalo jelek dibilang seenaknya aja... hehe,, maaf ya guys, masih terus memperbaiki diri sampai akhir hayat,

Terima kasih telah peduli padaku.
Terima kasih masih mau memperbaikiku.
Terima kasih telah sabar padaku.
Saling menasihati dalam kesabaran, kasih sayang, dan kebaikan.


Qur’an inspirasi:
Q.S. Al Ashr
Q.S. Al Balad ayat 17 : “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”





Share:

Jumat, Juni 19, 2015

NewBi =)


- Keluarga Baru - Teamwork Baru - Dunia Baru - 


Setengah isi setengah kosong, yang kosong mesti diisi dan yang diisi mesti ada ruang kosong. Melebarkan zona nyaman menjadi sebuah keniscayaan, hidup bersama karakter-karakter baru. Budaya yang akan bentuk bersama dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Tak harus memakai nama Islami untuk menjadi seorang MUSLIM SEJATI. Bukan kah begitu?

Terkadang namanya Islami tapi kok... sementara yang tak terlihat sholih ternyata sangat akhlaqul karimah. MasyaAllah... Semoga kita selalu istiqomah memperbaiki diri!
(sampul saja tak cukup guys)

Kuatkan diri menjadi muslim yang kuat berdiri di dua kaki, bahagia menjalani semua proses, terbuka dan welcome dengan semua tipe yang ada ^^. 
Saya mencintai pembelajaran ini maka saya harus terus berlatih dan berpacu dengan waktu.

Bimbing aku ya Robb, kuatkan pundaku wahai teman-teman ku :) 

BE STRONG n KEEP FIGHT!!!

Center for Public Mental Health
Share:

Senin, Mei 18, 2015

Psikologi Kebencanaan





UGM- Senin (18/5) saya berkesempatan untuk mengikuti sharing dengan alumni Psikologi angkatan 1993 yang diselenggarakan oleh CPMH. Beliau adalah Ibu Lusi Nuryanti, M.Si (PhD candedate from LeedsBacket University). Berikut liputan live nya!

Diskusi tentang Psikologi kebencanaan adalah hal yang menarik, karena pada kenyataan ketika menjadi relawan atau pun sebagai seorang psikologi relawan kita masih kebingungan untuk menghadapi response kebencanaan sebagai seorang psikologi.
Manakah yang diprioritaskan terlebih dahulu masalah makanannya kah, traumahealing, sanitasi, kebutuhan sandang, bahkan sampai ke pembahasan dan pengadaan bilik mesra namun pada akhirnya tidak terpakai, ungkap salah satu peserta.

Peran psikologi dalam kebencanaan bisa dilihat dari Disaster Management Cycle, sambung Bu Lusi.

Management Disaster
Kebanyakan permintaan terhadap relawan atau relawan psikologi ada pada event recovery dan response. Sementara event mitigation dan preparation ada pada ranah orang geografi - geologi. Namun, bila kita lihat lebih lanjut sesungguhnya peran psikologi ada dalam semua event tersebut, walaupun aspeknya bisa spesifik ke ranah tertentu. Misal psikologi pada ranah mitigation dan pre-paration adalah ranah psikolog komunitas, response dan recovery (psikologi klinis), serta tak terlepas dari ranah lain dalam membantu mereka untuk bangkit kembali. Hal yang perlu ditekankan adalah  psikologi dibutuhkan di semua aspek selama masih ada manusia! ^^


Mari kita lihat lebih dekat!

Indonesia adalah supermarket bencana, semua bencana ada, kata BNBP lho (bukan saya--lusi.red). Mulai dari bencana kekeringan, banjir, tanah longsor, tsunami, gempa bumi, gunung meletus dsb. Indonesia pasti  kesebut di top 5, entah di bagian penelitiannya, korbannya, skala bencana, hingga faktor kerugiannya.

Sayangnya, kebanyakan publikasi dari penelitian, explorasi dan publikasi tak banyak ditulis oleh orang Indonesia sendiri. Banyak para ahli dari luar negri yang menjadikan Indonesia sebagai objek penelitian. Tapi hanya sedikit dari Indonesia! T_T

Hasil gambar untuk cultural psychology of coping with disastersAda satu buku yang memotivasi saya karena disana ada satu penulis Indonesia, beliau juga alumni dari fakultas Psikologi, judulnya cultural psychology of coping with disasters tulisan dari Bu JEP. Semoga buku ini bisa menjadi pelopor karya yang lain untuk tampil.

 Mengapa (lagi) perlu psikologi kebencanaan?

  1. Indonesia memiliki 145 gunung dengan 58 masuk klasifikasi berbahaya 
  2. Indonesia memiliki jumlah populasi yang tinggal di lereng gunung berapi (<100km) terbesar di dunia yaitu 180 juta jiwa
  3. Jumlah penduduk di lereng Merapi termasuk terpadat sedunia

Penelitian saya fokus pada bencana meletusnya merapi kemarin, saya melihat fakta bahwa perlu waktu bertahun tahun untuk pemerintah jogja mampu merekolasi para penduduk yang tinggal di lereng gunung merapi. Bahkan ada yang tetap bersikukuh tidak mau pindah.

Saya melihat betapa pentingnya adanya orang psikologi dalam pengambilan kebijakan dan memahami dinamika masyarakat yang ada. Menjadi lebih strategis lagi bila masuk bagian di BPBD
(Badan Penanggulangan Benana Daerah).

Ada lagi peserta online yang bertanya bagaimana jika psikologi itu fokus pada mitigasi bencana yang atau bencana nya disebabkan oleh manusia (man made).
Bencana yang disebabkan oleh Man made – itu ya seperti nuklir,  kalau banjir merupakan kombinasi man made dan alam, atau bisa juga seperti kejadian air asia, dsb.
Peran psikologi tidak bisa dipisah-pisahkan dalam proses mitigasi bisa berperan d keduanya baik dalam menangani perilaku manusianya maupun dengan persiapan dalam penanggulangan bencana lebih lanjut, tandas Bu Lusi.

Sharing ini sungguh menarik, tapi karena azan maghrib sudah berkumandang, maka dicukupkan saja sampai disini. Semoga masih ada sharing selanjutnya. Ciao ^^


Share:

Senin, Mei 04, 2015

Pesta buku


Jogja - Hari Jumat (1/5) kemarin sy berkesempatan untuk mengunjungi Pesta Buku. Mumpung pas libur, bolehlah refreshing...
Sekitar jam 16.30 sy sampai dsana bersama anak2 RTT. Disambut dg alunan hadroh.. (kece banget ya!! *excited,). Pesta buku ini yg ngadain IKAPI ( Ikatan Penerbit Indonesia) jd beragam isinya, gak cuma buku buku Islam aja kyk di IBF..
Mulai dari novel-novel luarnegeri macam sequelnya divergent, Sea monster nya Parsy, bacaan Islami, terbitan kompas n indopress yg murah meriah, sampai kesenian dan tawaran aplikasi macam listeno.

Ini nih seni yg smpt sy dokumentasikan
Dia tidak punya telinga. Mata untuk menatap samping >,<
Inget kata kata "ini IBU BUDI" (zaman TK)
Share:

Senin, Februari 02, 2015

Dauroh Fiqh #1





Gambar  Buku Mukoddimah Fiqh
 (cover suka-suka yang nge-print karena print e-book)

Jakarta - Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan ikut sebuah Dauroh 
(Training/Diklat) namanya “Dauroh Fiqh” bersama teman-teman Darush Shalihat (DS) 
VIII tanggal 17-27 Januari 2015 di Jakarta. Acara ini bekerjama dengan rumahfiqh
 (www.rumahfiqh.com) dan pembicaranya banyak dari pengisi website tersebut.

Banyak hikmah yang saya peroleh mulai dari awal proses sampai akhir dari 
perjalanan itu. Sayang bila tidak dituliskan ^^v. 
Saya akan menceritakan dari awal perjalanan… sok kita mulai ya… 

Share:

Senin, Januari 19, 2015

Yummy Yummy yuuii



Jogja Berhati Nyaman - Hal yang paling menyenangkan dan menjadi kenangan yang selalu dirindukan adalah
nikmatnya kuliner di Jogja,,, hehe,,,

  1. Pizza
Saya termasuk penggemar roti isi ini, tapi sayangnya gak semua pizza sesuai dengan mulut dan perut. Ada tempat makan pizza yang sudah terkenal tapi sayangnya saya selalu tidak cocok, ada aja kejadian setelahnya entah sakit perut kah atau apalah, mungkin karena produk boikot siii...huu..ada juga produk lain tapi belum oke rasanya.. Nah setelah finding dan tanya sana sini ada nih yang lumayan..

tempatnya di IL Mondo, pizzanya gak terlalu tipis, kayak pizza turki yang kayak di isi..dan rasanya enak ^^, insyaAllah juga halal walaupun belum ada label MUInya, hehe.

Tempatnya pun nyaman gak bising, desainnya  unik kayak zaman Belanda gitu


2. Siomay


Makanan satu (siomay kuah segar dan Yakishori) ini juga menjadi favorite apalagi kalo di tambah ramen cumi, okonomiyaki, dan takoyaki.. hmm jadi meleleh ni air liurnya. Makanan ini bisa di dapat di Bang jobress, ada di jalan kaliurang km 8 an, sama di jalan HOS Cokroaminoto. Di jamin HALAL!













3. NASI GORENG

Memiliki bahan dasar yang sama (nasi.red) tapi mengapa rasanya bisa berbagai macam ??? itulah inovasi yang dilakukan oleh Gotri! (jakal km 5) ada nasi goreng rasa rendang, kare, tomyam, vegetarian, rasa BBQ..dan gak hanya itu..seafood pun ada. Gak Nyesel deh mampir ksini... Harganya juga relatif sedang dengan porsi yang besar. Masih sekitar 10-20k. Bisa lah irit dikit untuk diluangkan waktu bisa kuliner sebulan sekali..

*akyu banget

4. Mie ayam jamur Blimbingsari
Tak ketinggalan makanan rakyat satu ini!
Apalagi kalo jelas no pengawet no vetsin dan halal. Alhamdulillah..

Bisa banget di nikmati hanya dengan 7k di Mie ayam Blimbing sari. #Aseeek


5. Bebakaran



Cumi lada hitam - tongseng jamur dan mocacino float by Bale Bebakaran :)

6. Cane Bungo jeumpa


Share:

Jumat, November 28, 2014

Rumah Tahfidz Teladan


Milano _ Idano_Hanao_Nayao ='p

November 2014- Life is learning... Wherever and whenever you are. Kesempatanku belajar saat ini tidak jauh berbeda dengan perjalanan kurang lebih  4 tahun yang lalu. Yaitu hidup berasrama, hidup berkomunitas, dan hidup dengan berbagai macam orang - berbagai karakter.

Rumah Tahfidz Teladan itu tempat dimana aku tinggal sekarang. Bersama dengan Bunda dan suaminya (Ayah.panggilannya-red) dan bersama dengan anak-anak RTT sebutan untuk rumah tahfidz teladan. Para asabiqunal auwalun itu ada Dije, Bila, Naya, Alma, Mila, Delonix, Amel, Aulia, Putri, Qonita, Ida, Adhwa, lalu ditambah Hana... Kesebelasan ditambah 2 wasit.. hehe
Adhwa cilik mengaji
Kegiatan disini mengaji mengaji dan mengaji. Habis Subuh mengaji sampai jam 5.30. Pulang sekolah anak-anak juga mengaji jam 16.00-17.00 lalu habis maghrib pun mengaji lagi sampai isya'. Tiada waktu tanpa mengaji... :) Pengalaman menarik adalah ketika mendampingi bocil-bocil ini mengaji. Dulu aku usia SD masih maen, baca komik.. blm tau ada namanya hafalan... taunya makanan...

Yuk lanjut kisahnya ....^^

Share:

Selasa, Oktober 14, 2014

Rabithah Untukmu....

Sayang itu terkadang terlalu malu diungkapkan pada objek subjek utama,
tapi dia “sumringah” diajukan pada objek-objek subjek-subjek pendamping.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu untuk diucapkan.
Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.
(penghujung Muharram 1433H)

Tulisan ini tentang ringkasan dari Buku “Syarah Do’a Rabithah” oleh Muhammad Lili Nur Aulia. Saya tulis sudah beberapa tahun yang lalu dan akhirnya menemukan buku ini kembali. Sayang sekali jika tidak  Saya tuliskan lagi disini.

Share:

Rabu, Juli 02, 2014

Kamis, Mei 15, 2014

TANPA RUH

KOSONG - Cobalah kamu tidak membaca Al Qur'an selama satu hari atau sepekan atau bahkan sebulan. Boro-boro sampai sebulan sehari saja sama sekali tidak membaca pasti ada yang hilang dalam dirimu. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak sholat?


Entah apa yang sebenarnya yang terjadi dalam hidupku beberapa waktu ini. Aku kehilangan spiritku. Kejenuhan yang sangat melihat keadaan yang tak kunjung berubah. Mengalami rutinitas yang sama, orang-orang yang sama, dengan koreksi yang sama. Mengapa kau tak kunjung berubah?

Aku merasakan lelah untuk mengingatkan, lama sekali aku menekan tombol "mute" pada sikap bawelku. Aku ingin melihat kepedulian dari orang lain, bukan hanya aku. 
Aku ingin melihat apa yang terjadi bila aku tidak peduli. 
Apa yang terjadi ketika tidak ada gerakan.

Miris - nila setitik rusak susu sebelanga itulah yang terjadi. Begitulah umumnya orang yang seharusnya "tidak boleh salah". Menjadi teladan adalah hukum mutlak orang yang dituakan. Aku tidak menolak anggapan itu. Dan itu hal yang wajar.  
Bukti bahwa lingkungan akan mempengaruhi sosok dan sosok itu akan mempengaruhi lingkungan juga benar adanya. 
Sebenarnya, aku berharap muncul sosok baru yang dengannya menghidupkan kembali cahaya yang hilang. 
Gayung tak bersambut, memang takdir tidak bisa dipilih. Ketika kita menghendaki perubahan dari lingkungan sekitar kita, mutlak harus melalui perubahan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Selayaknya, aku yang harus evaluasi diri untuk siapa amal ini... 

Berharap pada hasil yang terbaik, yang paling ideal, yang paling sempurna membuatku putus asa dan menarik diri dari lingkungan-kecewa. 
Tak mau berbagi adalah hal yang menyedihkan, aku sakit semakin akut. Bukanlah sakit fisik yang membuatku nelangsa kehilangan RUH-lah yang membuat hidup menjadi nestapa.

Aku baca lagi firmanNya :

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(Q.S. Al Kahfi 103-104) 

Haluan orientasi ini harus kembali pada jalannya, bisikku pada diriku sendiri. Nilai perbuatan kita bukan dinilai dari hasil yang diberikan oleh orang lain melalui tangan kita, tapi bagaimana melalui tangan-tangan kita inilah akan membuahkan hasil sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang.

Terus menanam, merawat, sehingga suatu saat nanti buahnya terasa nikmat ketika dimakan oleh orang lain. Begitulah arti dari nafi'un li ghoirihi paling bermanfaat bagi orang banyak. Itulah sebaik-baik manusia.

Ruh itu akan kembali dengan sendirinya ketika kita menambah rasa sayang kita pada Allah SWT dan menyayangi orang lain, umat ini melebihi diri kita sendiri.

kalo tidak bermanfaat mengapa jua kita masih melakukannya? kalo tidak di dunia insyaAllah di akhirat. pasti.


Sumber gambar : www.langitnilai.com
Share:

Rabu, Mei 07, 2014

Himmatuhusna



Sudah lama sekali sekitar tahun 2011 lalu, aku dipertemukan kembali oleh salah seorang temanku di Jama’ah Shalahuddin. Sebuah perbincangan singkat di social media, kami saling berbagi kabar dan aktivitas saat itu. Saat itu dia sudah menikah dan terus berdakwah. Sosoknya yang aku ingat saat kami berjibaku dulu adalah dia selalu membawa buku kemana-mana. Di buku itu juga dia tuliskan
 “APAPUN YANG TERJADI TETAP TULISKAN!!!” 
 “WALAUPUN KAMU LELAH TETAPLAH MENULIS” 
kiranya begitu kalimat motivasi yang tertulis dengan huruf KAPITAL dan berulang-ulang. Pertemanan kami memang singkat, karena semangatnya menuntut ilmu dinniyah membuat kami harus berpisah sementara waktu. Kalian tau apa komentar dia saat kami berjumpa lagi dalam percakapan singkat itu...

“Kalau avis, nama sebutan yang cocok buatmu itu himmatuhusna”
“apa itu artinya?”
“semangat yang baik, avis kan orangnya selalu semangat!!!”
“hehehe...”

Percakapan itu selalu ku ingat dan akhirnya kutuliskan kembali disini, dan nama itu aku labelkan di nama drive, flashdisk, email dsb....
Namun, entah mengapa saat ini aku merasa malu. Malu karena sepertinya aku tak semangat seperti dulu. Terlalu banyak pertimbangan untuk beramal. Merasa gagal dan putus asa pada semua yang pernah dilakukan.... Akhirnya kecewa dan menarik diri. Astaughfirullah...

Betapa mudah Allah itu membolak balikan hati. Makanya:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ».
“Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [10/181] as-Syamilah)
Sesuatu itu perlu dikembalikan lagi pada “ghoyah”nya... Allah ghoyatuna.... Ringan diucapkan tapi berat dalam amal. Kalau saat ini aku menyerah, kenapa aku menyerah? Apa setelah menyerah iman itu bertambah? Setiap tindakan dan alasan perlu kita pertanyakan kembali “apakah Allah ridho dengan apa yang kita kerjakan?”

“berlelah-lelahlah sampai lelah itu lelah mengikutimu”
 karena akhir perjuangan ini akan selesai ketika KAKI TELAH MENAPAK KE SURGANYA.

Merbabu 2013 _ dan menapak kaki dengan pasti... (izzis)

Share: